Home » Perikanan » Warga Karangrowo Buka Mitos Sulitnya Budidaya Ikan Gabus
Fajar Nugroho SP, Kabid Perikanan dan Ami Putri, Kasie Produksi Perikanan, melihat bibit ikan gabus siap jual yang diberi makan Hartaji di halaman rumahnya.

Warga Karangrowo Buka Mitos Sulitnya Budidaya Ikan Gabus

Undaan,- Sulit bukan berarti mustahil. Kalimat ini cocok untuk budidaya ikan gabus yang dikenal sebagai ikan yang hidup bebas di rawa atau sungai dan sangat sulit dibudidayakan.

Namun mitos ini berhasil dijebol berkat keuletan Hartaji Purnomo, warga Dusun Kaliyoso Desa Karangrowo Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus bisa membuahkan hasil yang memuaskan. Usaha budidaya pembibitan ikan gabus inipun menjadi usaha yang menjanjikan dan bisa meningkatkan taraf ekonominya.

Fajar Nugroho mengamati pinggiran kolam yang ditunjukkan Hartaji sebagai lokasi minggirnya telur ikan gabus.

Memanfaatkan lahan yang berada di belakang rumahnya, Hartaji melakukan budidaya pembenihan ikan gabus. Dia mengaku, pada awalnya memang sulit melakukan budidaya ikan yang dianggap liar ini. Pasalnya, ikan gabus dikenal sebagai ikan yang bisa melompat setinggi kurang lebih 3 meter dari pematang ke pematang dan bisa hidup di daerah yang minim air.

” Kesulitan lainnya adalah ikan gabus dikenal sangat sulit untuk ditangkap karena keuletannya. Dan indukan yang berada di kolam ini juga tidak diketahui darimana datangnya.,” ungkap Hartaji saat dikunjungi Bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus, Selasa (02/05) siang.

Khawatir hilangnya indukan, pria berusia 50 tahun ini memasang jaring pembatas di sekeliling kolamnya. Ketinggian air dijaga tidak sampai mendekati bibir kolam. Sementara ke dalam air setinggi dada orang dewasa. Sedangkan anakan ikan gabus berukuran 5-7 cm dimasukan ke kolam depan rumah sehingga mudah ketika ada pembeli datang.

Bapak tiga anak ini memilih budidaya pembenihan karena biayanya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan pembesaran.

“ Kalau pembesaran biaya pakannya sangat mahal. Sementara kita masih banyak kebutuhan untuk sekolah anak-anak ,” terang Hartaji didampingi istrinya, Nani (45).

Dijelaskan, indukan ikan gabus yang dimilikinya setiap bulan pasti bertelur. Dan telurnya berada dipinggir kolam serta menempel pada akan tanaman enceng gondok atau ganggang air. Sekali bertelur itu jumlahnya mencapai ribuan. Nah, ini kemudian diangkat untuk dipindahkan ke kolam terpal.

“ Kita pindahkan telur-telur itu bareng dengan tanamannya. Jadi supaya merasa tetap seperti di lokasi semula. Bedanya, di kolam terpal diberikan air yang tetap mengalir ,” ceritanya.

Ami Putri di depan kolam terpal untuk penetasan telur-telur ikan gabus. Nampak aliran air dari pipa untuk menciptakan kondisi segar air kolam.

Perawatan telur-telur ini harus dilakukan dengan intensif supaya menetasnya mencapai 90 persen. Seminggu kemudian telur menetas dan sumber makanannya berasal dari zat-zat yang menempel pada akan tanaman.

“ Setelah agak besar, kita bikin dia lapar kemudian diberi pelet pur kecil. Kalau tidak mau makan, ya kita beri ulat sutera. Pemberian pur ini karena nantinya mereka dijual untuk dibudidayakan pembesaran. Jadi supaya terbiasa dengan makanan pabrikan ,” jelasnya.

Mengenai pemasaran, Aji mengaku tidak mengalami kesulitan karena sudah ada pembeli yang datang ke rumahnya. Benih ikan gabus ukuran 2-4 cm dan 5-7 menjadi pilihan pembeli. Untuk 2-4 sm dijual Rp 150 dan 5-7 cm dijual Rp 200- 250.

“ Rata-rata dari telur itu menetasnya sekitar 8500-an ekor. Jadi ya dapatnya sekitar Rp 2 juta-an dari ikan gabus anakan itu. Bulan lalu lebih dari 10 ribuan ekor ,” tukas Nani, istri Aji.

Nani menuturkan bahwa di kolam belakang rumahnya tidak hanya ikan gabus, tapi juga ada lele dan Nila.

“ Jadi memang bapaknya ini sehari-hari di belakang rumah ngurus ikan. Kalau keluar rumah hanya beli pakan pur atau ulat sutera ,” imbuhnya sambil tersenyum.

Menanggapi hal ini, Fajar Nugroho SP, Kabid Perikanan, mengatakan bahwa upaya dari Hartaji ini sangat baik untuk dunia perikanan Kabupaten Kudus. Bahkan saat ini ikan gabus sangat dibutuhkan karena banyak manfaatnya. Oleh karena itu diharapkan untuk terus ditingkatkan produksinya.

“ Kita yakin, usaha pak Aji ini. Mungkin baru satu-satunya budidaya ikan gabus di Kudus dan pemasarannya sudah sampai luar Kudus. Bahkan bu Ami ini juga mendengar informasinya dari Semarang bahwa di Kudus ada pembudidaya ikan gabus ,” kata Fajar Nugroho.

Fajar Nugroho yang mewakili Catur Sulistiyanto, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus memberikan masukan supaya sarana prasarana lingkungan sanitasi untuk budidaya ikan gabus milik Hartaji ditata lebih baik.

Suasana akrab pembinaan Dinas Pertanian dan Pangan melalui Bidang Perikanan pada Hartaji dan istrinya, Nani.

“ Kami dari dinas yakin bila setelah ini akan ada banyak tamu yang datang. Sehingga bila saluran lingkungan sanitasi ditata lebih baik tentu akan semakin menarik untuk pembeli datang. Selain itu, nanti pak Aji atau ibu akan diikutkan untuk CPIB. Cara pembenihan ikan yang baik sesuai dengan sertifikasi dari kementerian kelautan dan perikanan RI. Sehingga dengan adanya sertifikasi ini akan membuat kualitas makin baik serta harga pasti mengikuti ,” paparnya.

Ir RA Ami Putri, Kepala Seksi Produksi Perikanan, menambahkan bahwa jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan gabus dalam sekali bertelur sebenarnya bisa mencapai 60 ribu sampai 100 ribu larva. Ini hampir sama dengan bertelurnya ikan lele. Tergantung dari kualitas induk masing-masing.

“ Mungkin telur yang lain berada di tengah kolam menempel karamba, sementara yang ke pinggir 7500 sampai 8500-an tadi. Tapi ini bagus kok, nanti setelah mendapatkan pembinaan dari kami Bidang Perikanan, insyallah akan semakin baik ,” tambahnya. (*)

One comment

  1. Harga ikan gabus berapa harganya???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kudus Genjot Produksi Ikan Konsumsi Berbasis Komunitas

Bae,- Program peningkatan budidaya perikanan baik ikan hias maupun konsumsi yang digagas Catur Sulistiyanto S.Sos ...