Home » UPT Puskeswan » Sosialisasikan Kewajiban Memotong Hewan Ternak di RPH Door to Door
LANGSUNG. Tim sosialisasi perda 13 tahun 2017 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan mengenai RPH dan TPH, Sa’diyah ( Kabid Peternakan), Dedi Nurjatmiko ( Jaksa Kejari), Dwi Listiani ( Kasie Usaha Sarana dan Prasarana Peternakan) dan Jajang Wiwoko ( Kanit ResEk Polres Kudus) saat menemui jagal tradisional desa Bacin di rumahnya.

Sosialisasikan Kewajiban Memotong Hewan Ternak di RPH Door to Door

Gebog,- Setelah sosialisasi Perda nomer 13 Tahun 2017 di ruang Dinas Pertanian dan Pangan, tim yang terdiri dari  Bidang Peternakan ( Dinas Pertanian dan Pangan), UPTD Puskeswan dan RPH, Polres Kudus, Kejaksaan Negeri Kudus dan Satpol PP turun ke lapangan. Tujuannya yakni sosialiasi secara door to door ke para jagal yang memiliki tempat pemotongan hewan ( TPH) tradisional. Sehingga mereka secara sukarela memindahkan lokasi pemotongan ke RPH (Rumah Pemotongan Hewan) Kudus sebelum pemberlakukan Perda pada Juni 2018 mendatang.

Rombongan pertama kali melakukan silaturahmi ke rumah jagal tradisional desa Bacin Kecamatan Bae yakni Ade Sari, Sukarman dan Yanto, Rabu (22/11).

RELOKASI. Tim sosialisasi perda 13 tahun 2017 saat mengunjungi lokasi kandang ternak dan tempat pemotongan milik jagal desa Bacin.

“ Kedatangan kami ingin mensosialisasikan tentang perda nomer 13 tahun 2017. Bahwa nantinya kita harapkan para jagal untuk memotongkan hewan ternaknya ke RPH Kudus di Prambatan Kidul ,” kata Sa’diyah, Kabid Peternakan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kudus.

Sa’diyah menjelaskan bahwa dengan pemotongan dilakukan di RPH akan menjamin kualitas daging yang dihasilkan sehingga masyarakat Kudus akan memperoleh daging konsumsi sesuai aturan. Yaitu sebagai upaya dalam penyediaan daging yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Selain itu juga sebagai upaya sejak dini meminimalkan pencemaran lingkungan.

Sosialisasi perda tentang kewajiban memotong hewan harus ke RPH Kudus di rumah Muslih, jagal Desa Gebog.

Dwi Listiani, Kasie Usaha Sarana dan Prasarana Peternakan, menambahkan pihaknya juga meminta masukan terkait dengan kondisi RPH saat ini agar sesuai dengan kebiasaan para jagal. Sehingga nyaman membawa hewan ternaknya untuk dipotongkan dan tidak timbul keluhan.

“ Kalau untuk kendaraan pengangkut daging, apabila jumlah yang dipotongkan cukup banyak bisa digunakan sebagai fasilitas. Sedangkan masukan-masukan untuk perbaikan fasilitas dalam RPH akan berusaha dipenuhi sampai akhir tahun atau maksimal sampai diberlakukan perda-nya ,” tukasnya.

Menanggapi hal ini Ade Sari mengungkapkan bahwa ketiga jagal tradisional di desa Bacin siap untuk memindahkan lokasi pemotongan hewan ke RPH. Sebagai masukkannya adalah lantai menuju ke killing box agar diberikan karpet karet. Sehingga ketika hewan ternaknya berjalan tidak licin.

“ Kami sudah melihat kondisi disana. Lantainya memang bagus dan bersih. Tetapi itu malah kurang baik untuk berjalannya hewan ternak. Sebab rawan terpeleset. Tenaga kami yang kesana sempat terpeleset ketika melakukan survei. Jadi kami harapkan penambahan itu kan pengait gantungan untuk daging yang sudah selesai penyembelihan. Namun pada intinya kami siap mendukung program pemerintah. Kami perhari tiap jagal rata-rata memotongan 2 sampai tiga ekor. Kalau ada pengetatan aturan untuk daging dari luar kota mungkin bisa menambah jadi satu ekor lagi ,” ucap Ade Sari yang diikuti anggukan Sukarman.

AKRAB. Selain sosialisasi perda juga mengedukasi pada Sunarti ( sedang tandatangan), jagal desa Gondosari ketika membeli daging dari luar kota harus disertai surat keterangan dari Dinas terkait asalnya.

Setelah dari Bacin, tim kemudian menuju ke jagal tradisional di kecamatan Gebog yang terdapat tiga penjagal. yakni Muslih, Sunarti dan Ulfa. Di tempat Muslih hewan ternak persiapan untuk dipotong juga cukup banyak. Terlihat ada 14 ekor sapi dan satu kerbau. Tim menjelaskan tentang isi Perda nomer 13 tahun 2017. Mendengar hal itu, Muslih mengungkapkan bila pihaknya tidak keberatan untuk membawa hewan ternaknya ke RPH Prambatan. Namun dirinya masih mempertimbangkan terkait dengan jarak yang harus ditempuh bolak-balik. Sebab para bakul pelanggannya berada di pasar Gebog dan Dawe.

“ Nanti akan kita tata, mungkin membawa ke RPH nya bawa colt pick up, kemudian daging potongan akan dibawa menggunakan sepeda motor ke kios yang berada di depan rumah dan pasar Dawe. Jadi bisa lebih cepat ,” ujar Muslih.

Hal senada juga diungkapkan Sunarti, jagal tradisional Desa Gondosari yang memotong hewan ternaknya di halaman bagian pojok depan rumahnya. Dia berharap bisa menggunakan kendaraan daging milik dinas untuk mengangkut daging hasil potongan di RPH ke rumahnya yang juga digunakan sebagai kios.

“ Satu hari rata-rata kita bisa menjual daging 200 kilo atau satu ekor Sapi. Kalau permintaan pasar banyak kita mendatangkan dari Boyolali. Tapi saya sudah pesan, tidak mau menerima daging gelonggongan. Harus daging yang kualitasnya baik karena terkait dengan nama baiknya di mata para bakul. Kita ini sebagai jagal sebagai sumber kehidupan. Jadi ingin pelanggan terus menerus datang ,” jelas Sunarti.

Bahkan wanita yang baru datang dari mengantarkan daging ke pasar itu mempersilakan tim untuk melihat daging yang disimpannya dalam freezer sebagai stok dagangan.

Tim sedang mengunjungi tempat pemotongan hewan milik Suyono di desa Gulang.

“ Daging yang saya jual seperti ini. Bisa diperiksa kualitasnya bagus kan ,” tukasnya sambil membuka pintu freezer dan menunjukkan daging di bungkusan plastik.

Terakhir tim sosialiasi mendatangi jagal tradisional di desa Gulang Kecamatan Mejobo yakni Suyono sedangkan jagal lainnya di Desa Kesambi. Suyono mempertimbangkan untuk membuat Tempat Pemotongan Hewan ( TPH) sendiri terkait dengan kapasitas produksinya yang cukup besar. Sebab menurut pertimbangannya, RPH Kudus belum bisa melayani pihaknya bila seluruh jagal di Kudus membawa hewan ternaknya ke Prambatan kidul. Karena berdasarkan perhitungannya akan membuat daging miliknya jadi siang. Padahal pasar meminta untuk dikirim pagi.

“ Tapi sambil menunggu syarat-syarat apa saja yang diharuskan untuk mendirikan TPH sendiri, kami akan membawa hewan ternak ke RPH Prambatan. Kendala ke RPH itu kan jalan aksesnya kecil, kalau kita membawa truk kesana, jalannya tidak bisa dipakai simpangan. Mungkin ini bisa jadi pertimbangan Pemkab kudus untuk memperlebar jalan akses ke RPH supaya bisa jadi dua lajur truk ,” tuturnya.

Sedangkan Jajang Wiwoko, Kanit Reserse Ekonomi Polres Kudus, menerangkan bahwa saat ini pihaknya masih tahap sosialisasi. Sehingga para pelaku usaha  jagal tradisional tidak perlu khawatir. Namun diharapkan secara perlahan untuk menyesuaikan kebiasan untuk memotongkan hewan ternaknya ke RPH Kudus.

“ Kami semua ingin, warga Kudus mengkonsumi daging yang berkualitas dan baik. Sedangkan untuk daging dari luar kota kita minta para pedagang untuk mempunyai surat keterangan dari dinas terkait asal daging tersebut. Sehingga apabila tidak sesuai aturan, maka mudah menelusurinya ,” kata Jajang.

“ Pemberlakukan perda ini nanti masih Juni tahun 2018,” tandasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Ratusan Sperma Beku Unggul untuk Sapi dan Kambing Siap Disuntikkan

Gebog,- Guna meningkatkan populasi anakan sapi dan kambing di wilayah Kabupaten Kudus, Dinas Pertanian dan ...