Home » BBT » Program Urban Farming Disambut Antusias Warga Mejobo
MEMOTIVASI. Budiyono bersama Rofiq dan Haryati dari KJF Dinas Pertanian dan Pangan Kudus menyampaikan sambutan dan memberikan motivasi agar peserta semakin tertarik dengan urban farming.

Program Urban Farming Disambut Antusias Warga Mejobo

Mejobo,- Virus kebaikan untuk mengajak masyarakat bersemangat bercocok tanam bagi kalangan muda, yang disebarkan Dinas Pertanian dan Pangan Kudus dibawah pimpinan Catur Sulistiyanto S.Sos MM mulai menunjukkan hasilnya. Hal ini terlihat saat pelatihan urban farming yang dilaksanakan di kantor BPP Kecamatan Mejobo, Selasa (10/07).

Peserta yang mayoritas kalangan muda dan ibu-ibu PKK tersebut antusias dan meminta untuk fasilitasi pendampingan.

BAHAGIA. Para ibu-ibu muda mengisi absen sebelum memasuki ruangan pelatihan urban farming dengan rasa senang.

Budiyono, KJF Dispertanpangan Kudus, dalam sambutannya mengatakan bahwa program urban farming ini untuk mengajak masyarakat terutama kalangan generasi muda dan ibu-ibu rumah tangga untuk memaksimalkan lahan di sekitar rumahnya.

“ Selain untuk mencukup kebutuhan rumah tangga sendiri, juga bisa menghasilkan keuntungan saat sayur panenan dijual ke masyarakat ,” ujar Budiyono.

Melalui urban farming ini juga mengenalkan cara bercocok tanam menggunakan teknologi sehingga bisa merubah pola pikir bahwa bertani selalu belepotan lumpur dan tanah. Sebab, sistem hidroponik meda tanamnya berbeda namun hasil produksi bisa sama.

“ Banyak generasi muda ini enggan turun jadi petani karena tidak mau badannya kena lumpur. Nah, dengan hidroponik maka kesan itu bisa hilang. Terutama ibu-ibu muda, hasil hidroponik bisa mengurangi belanja sayur dan keluarga mendapatkan makanan segar ,” tambahnya.

Rofiq, narasumber lainnya, menambahkan bahwa pada pelatihan ini diajarkan bagaimana cara bercocok tanam sistem hidroponik secara detil. Para peserta juga diajak praktik mulai dari penyiapan lahan sampai pemasangan peralatan. Sehingga diharapkan bisa melakukan di rumah masing-masing ,” jelas Rofiq.

Pelatihan urban farming di BPP Mejobo ini dilaksanakan Selasa sampai kamis (10- 12/07). Dua hari teori dan satu hari terakhir praktek penyusunan alat dan bahan serta bercocok tanam.

Rofiq menjelankan bahwa lahan pekarangan sudah lama dikenal dan memiliki fungsi multiguna. Misalnya, untuk penghijauan, tanaman sayuran dapat menjadi kebutuhan sayur. Sebagai salahsatu bentuk penyaluran hobi.

“ Akan timbul rasa bangga jika mampu memanen dan mengkonsumsi sayuran yang ditanam sendiri. Bahkan mungkin sayang kalau mau memanen. Rasa mboheman ,” ucap Rofiq.

Karsono, Penyuluh Pertanian sebagai narasumber hari kedua, mengungkapkan bahwa bertanam secara hidroponik ini diperoleh sayuran yang lebih terjamin kebersihan dan mutunya. Sebab penggunaan pestisida yang dapat ditekan semaksimal mungkin. Bertanam sayuran di sekitar rumah juga berarti melatih seluruh anggota keluarga untuk lebih mencintai alam. Bahkan ditengah kondisi harga bahan kebtuhan pokok naik, menanam sayur mayur di kebun dapat turut membantu perekonomian dalam rumahtangga.

“ Maksutnya, kalau hasilnya lebih banyak dari konsumsi untuk keluarga sendiri kan bisa dijual ke pasar ,” tukasnya.

Dijelaskan, pola tanam di pekarangan ada tiga yakni Tanaman Sisi rumah, tanaman belakang rumah dan tanaman pagar. Untuk tanaman sisi rumah, sebaiknya jenis tanaman sayur-sayuran, obat-obatan dan bumbu-bumbuan dengan menghindari tanaman yang berpohon tinggi apalagi berpohon besar. Tanaman yang berpohon besar akan berakar besar pula sehingga bisa merusak pondasi rumah disamping pekarangan menjadi sangat lembab.

Pada Tanaman Belakang Rumah, bisa dilakukan dengan jenis tanaman yang pohonnya agak tinggi tetapi tidak begitu besar dan pilih yang bisa memberikan hasil secara terus-menerus dan bisa juga tanaman hias yang mempunyai harga relatif tinggi atau mahal. Sedangkan Tanaman pagar dimaksutkan sebagai tanaman batas pekarangan hendaknya dipergunakan pagar hidup yang cepat tumbuh, banyak cabang, kuat dan lebat, tanah pangkas dan bermanfaat banyak.

“ Misalnya, beluntas bisa dipakai untuk obat dan lalap, tanaman puring, mongkokun, kedondong, belimbing dan lain sebagainya ,” paparnya.

Noor Hudha Ahmada memberikan materi Teknik Budidaya Vertikultur hidroponik. Penanaman secara Vertikultur adalah penanaman tanaman yang ditata secara tegak lurus atau vertikal. Jenisnya bisa menggunakan rak (talang dan bambu) dan tabung (plastik, paralon dan lainnya).  Sedangkan jenis tanamannya adalah sayuran daun seperti sawi, selada, bayam, kangkung. Jenis tanaman bumbu seperti daun bawang, kucai, seledri dan kemangi.

“ Kita mengajak penanaman secara bertingkat atau dikenal dengan hidroponik ini karena secara geografis luas wilayah sekitar rumah di kawasan perkotaan tidak sama dengan wilayah pedesaan. Oleh karena itu tentu teknik budidaya tanaman harus menggunakan teknologi yang memungkinkan produktifitas tinggi pada lahan sangat terbatas ,” jelas Hudha.

Keunggulan teknologi Hidroponik karena bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah dan hemat lahan. Tidak menggunakan pestisida sehingga aman untuk dikonsumsi. Pemakaian air relatif lebih sedikit dibandingkan metode tanam dengan menggunakan media tanah.  Produktifitas lebih tinggi karena tanaman dapat dibudidayakan tanpa mengenal musim.

“ Dan yang pasti dan disukai generasi zaman now adalah tidak kotor terkena tanah, pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terjaga. Itu kan memang khas generasi muda sekarang, nanam tapi tidak kotor dan hasilnya cepat ,” cetus Hudha.

Media tanam hidroponik, selain pipa-pipa untuk tumbuhnya tanaman adalah tandon nutrisi yang bisa berupa box kontainer plastik  atau ember. Alas untuk media tanam menggunakan rockwool sehingga tidak memerlukan tanah.

“ Untuk tandon nutrisnya, jangan membeli yang bening atau transparan ya.. sebab kalau terkena sinar matahari maka kandungan nutrisi akan berkurang. Jadi kalau punya tabungnya bening, sebaiknya dicat pada bagian luarnya. Kalau untuk perkiraan biaya media tanam dengan lahan minimal seperti untuk praktik ini sekitar Rp 1 Juta – 1,5 juta . Tergantung merk pipa masing-masing ,” terangnya sambil menunjuk susunan rangkaian hidroponik untuk praktik peserta.

ANTUSIAS. Para peserta antusias mengikuti paparan para narasumber urban farming di gedung BPP Mejobo.

Mendengar paparan-paparan tersebut , para peserta antusias menanggapi dan ingin melakukan di sekitar rumah masing-masing. Misalnya, Yunarheni, pengurus PKK desa Jepang.

“ Lahan saya sempit, tetapi setelah mendengar penjelasan tentang hidroponik ini jadi kepingin punya. Beli benihnya dimana ? Saya di depan rumah masih bisa dipakai untuk tanam hidroponik seperti yang ada di depan itu ,” kata Yunarheni sambil menunjukkan rangkaian hidroponik di dekat layar.

Kemudian Eko Prayitno, asal desa Mejobo, menceritakan bila orangtuanya adalah petani. Namun dirinya tidak ada keinginan melanjutkan profesi orangtuanya tersebut. Tetapi setelah mengikuti pelatihan urban farming ini, dirinya ingin segera mempraktekkan bercocok tanam secara hidroponik.

“ Saya lahan ada, karena halaman rumah cukup luas. Mohon dari pihak BPP Mejobo ataupun Dinas Pertanian dan Pangan Kudus untuk terus memberikan motivasi dan dorongan semangat agar masyarakatnya terus tinggi terkait dengan hidroponik. Karena itu, setelah pelatihan ini kami minta untuk pihak penyuluh membuat grup WA khusus petani hidroponik kecamatan Mejobo ,” harap Eko Prayitno. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Sambut MT I, Rembug Tani Hingga Larut Malam

Bae,- Guna menyambut masa tanam (MT) I , petani wilayah kecamatan Bae melakukan rembug tani ...