Home » UPT Penyuluhan » Poktan Wonorejo Desa Gondoharum Ikuti Lomba Tingkat Jateng
OLAHAN. Kadispertanpangan Kudus, Catur Sulistiyanto bersama tim penilai Provinsi Jawa Tengah, Harjono (koordinator BPP Jekulo bersama PPL) melihat hasil olahan berbahan jagung karya KWT Poktan Wonorejo Desa Gondoharum.

Poktan Wonorejo Desa Gondoharum Ikuti Lomba Tingkat Jateng

Jekulo,- Keberhasilan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus yang dikomandani Catur Sulistiyanto S.Sos MM dalam pembinaan petani mendapat perhatian dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah. Kali ini, satu kelompok tani (poktan) Wonorejo Desa Gondoharum Kecamatan Jekulo mewakili Kabupaten Kudus mengikuti lomba poktan Upsus Jagung tingkat provinsi Jawa Tengah.

Tim penilai dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah dipimpin drh Harjuli Hatmono,  Kabid P2BU (Paska Panen, Penyuluh dan Bina Usaha) didampingi dua stafnya, Eko Pranoto dan Awal Kuscahyo meninjau langsung kondisi tempat poktan Wonorejo desa Gondoharum, Jumat (4/05).

SIAP. Catur Sulistiyanto menyampaikan sambutan dihadapan tim penilai upsus Jagung dan poktan Wonorejo, serta menyatakan siap menjadi Juara nomer satu.

Rombongan diterima langsung oleh Catur Sulistiyanto (Kadispertanpangan Kudus) bersama Hardjono ( Koordinator BPP Jekulo) dan para penyuluh di wilayah Kecamatan Jekulo.

“ Poktan disini sebagai petani yang menanam, setelah panen diolah oleh KWT (kelompok wanita tani) -nya. Ini inovasi olahan pengganti nasi yang banyak karbohidratnya. Dengan terpadunya poktan, KWT, penyuluh dan Dinas Pertanian, maka kami siap untuk menjadi juara ,” kata Catur Sulistiyanto dalam sambutannya.

Kepada anggota poktan, lanjutnya, yang belum memiliki kartu tani diharapkan untuk segera mendaftarkan diri. Sebab hal ini akan berkaitan dengan pembelian pupuk bersubsidi pada masa mendatang.

“ Mohon disampaikan kepada petani lain yang belum mendaftar Kartu Tani, agar segera menghubungi penyuluh pertanian untuk didata. Jangan sampai nanti kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi karena belum terdata kartu tani ,” harapnya.

Harjuli, ketua tim penilai lomba poktan upsus Jagung Jawa Tengah, setelah melihat lokasi poktan Wonorejo memberikan apresiasinya. Sebab poktan Wonorejo tidak hanya melakukan tanam jagung saja, tetapi juga melakukan olahan paska panen.

“ Tadi saya lihat ada alat-alat untuk mengolah paska panen. Saya minta anggota poktan ini untuk terus melakukan inovasi pembaruan  sehingga terus maju. Olahan berbahan jagung ini bisa menjadi selingan beras. Misalnya, makan tiga kali sehari yang 2 itu nasi, satu kalinya jagung ,” ujar Harjuli usai mencicipi aneka olahan berbahan jagung.

Harjuli menyampaikan bahwa posisi kelompok tani harus memberikan tiga manfaat. Yaitu, sebagai kelas belajar untuk semua anggota, wahana kerjasama dan unit produksi. Sehingga seluruh anggota menjadi mahir semua dalam bertani serta mengetahui perkembangan ilmu pertanian terbaru. Sedangkan fungsi wahana kerjasama adalah agar terjalin hubungan yang menguntungkan semua pihak. Maksutnya, pihak penjual pupuk, pihak pembibit dan mitra usaha tani lainnya.

“ Untuk fungsi unit produksi ya seperti yang dilakukan oleh KWT tadi. Memproduksi olahan berbahan jagung dan jenis tanaman lainnya. Sehingga nantinya bisa menggantikan makanan yang dikonsumsi anak-anak kita. Sekarang kan banyak dijual makanan dengan bahan pengawet yang apabila dikonsumsi jangka panjang bisa berdampak pada kesehatan. Dengan adanya unit produksi yang menghasilkan makanan alami tanpa pengawet dari KWT, tentu akan lebih baik. Caranya, bisa dititipkan di warung-warung desa atau dekat lokasi sekolahan. Saya sudah merasakan sendiri olahan dari poktan, enak dan mengandung gizi. Serta sudah jelas tidak pakai bahan pengawet ,” paparnya.

DIVERSIFIKASI. Harjuli menyampaikan ke Kadispertanpangan Kudus bahwa gembili bisa menjadi produk pangan unggulan selain jagung.

Harjuli mendukung pesan dari Kadispertanpangan Kudus terkait sosialisasi Kartu Tani. Sebab dengan terdaftar, maka jumlah petani bisa terdata dengan tepat. Sehingga ketika ada program-program dari pemerintah bisa tepat sasaran.

“ Poktan itu selain inovatif juga harus responsif. Maksutnya para petani yang sudah terdaftar Kartu tani dan anggota poktan langsung merespon dengan program dari pemerintah. Misalnya, pemerintah melakukan upsus Jagung. Poktan Wonorejo ini langsung menyatakan sanggup melaksanakan. Nah, kami dari pemerintah provinsi sangat senang dengan hal begini. Sekarang kan Poktan Wonorejo sudah menghasilkan panenan 600-800 ton atau perhektarnya 3 ton. Bagaimana supaya nantinya bisa naik jadi 3, 5 ton perhektar. Ini membutuhkan kerjasama dan bimbingan Dinas Pertanian Kudus, Penyuluh dan poktan. Semoga Kudus nanti menjadi juaranya ,” ungkapnya.

Sebagai gambaran, lomba poktan upsus jagung tingkat Jawa Tengah tahun ini tinggal enam besar. Yaitu Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kudus, Blora dan Grobogan. Kabupaten Cilacap gagal masuk enam besar karena pada kelengkapan administrasi.

Harjono, Koordinator BPP Kecamatan Jekulo, menyatakan kesanggupannya untuk menindaklanjuti pesan dari Distanbun Jateng terkait diversifikasi bahan pangan selain jagung. Yaitu budidaya gembili, kentang dan enthik.

“ Penanaman gembili itu beriringan dengan jagung. Batang tanaman jagung dipakai untuk rambatan dari tanaman gembili. Di kawasan Gondoharum ini produksi gembili masih bisa diperbanyak. Ini juga berkat arahan bapak kepala Dinas Pertanian Kudus ,” kata Harjono. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Gerak Cepat Dispertanpangan Atasi Serangan Ulat Bulu

Kota,- Pelayanan cepat mengatasi masalah ditengah masyarakat terus dilakukan jajaran Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) ...