Home » Peternakan » Kualitas Daging Lokal Kudus Lebih Baik Dibanding Luar Kota
LENGKAP. Catur Sulistiyanto (Kadispertanpangan Kudus) memimpin pemeriksaan perdagangan daging bersama Sa’diyah, Kabid Peternakan; Sidi Pramono, Kasie Produksi dan kesehatan hewan; Dwi Listyani, Kasie Usaha Sarana dan Prasarana Peternakan; Sudibyo, Kepala UPT Puskeswan Gebog dan Anton Cahyono, Veteriner Bidang Peternakan di kawasan Kecamatan Gebog, Minggu dinihari (10/06).

Kualitas Daging Lokal Kudus Lebih Baik Dibanding Luar Kota

Gebog,- Lebaran tinggal menghitung hari. Guna memastikan kelayakan daging yang beredar di wilayah Kabupaten, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus melakukan pemantauan dan pemeriksaan kondisi daging yang beredar, Minggu (10/06) dinihari.

Tim pemantau dipimpin langsung Catur Sulistiyanto S.Sos MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus diikuti drh Sa’diyah, Kabid Peternakan, Sidi Pramono SP Kasie Produksi dan Kesehatan Hewan, Dwi Listiyani S.Pt Msi Kasie Usaha Sarana dan Prasaran Peternakan dan Ir Sudibyo Kepala UPT Puskeswan Gebog dan RPH serta drh Anton Cahyono, Veteriner Bidang Peternakan.

KADAR AIR. Kadispertanpangan melihat langsung proses pengukuran kadar air daging yang akan diedarkan di wilayah Kabupaten Kudus.

Hasilnya, diketahui bahwa banyak pengepul daging dari luar kota surat keterangannya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Selain itu, kadar air daging dari luar kota lebih banyak dibandingkan daging lokal peternak di Kudus.

“ Pemantauan ini agar daging yang dikonsumsi warga Kudus sesuai dengan ASUH ( Aman Sehat Utuh dan Halal). Dari hasil pemeriksaan kadar air tadi bisa kita langsung lihat, kalau kadar air daging hasil peternakan lokal Kudus lebih baik dibandingkan dari luar kota. Ini juga menunjukkan keberhasilan dari Bidang Peternakan dalam membina para peternak di Kudus ,” kata Catur Sulistiyanto usai menyaksikan pengukuran kadar air pada daging sapi.

Selain memeriksa daging, Kadispertanpangan juga memeriksa langsung jerohan dari daging-daging hewan ternak di lapak-lapak para pengepul daging.

“ Ini hati dan jantungnya bagus. Jadi layak untuk dikonsumsi ,” sambil memegang jantung sapi.

LANGSUNG. Tidak hanya menggunakan alat, pemeriksaan juga dilakukan secara fisik dengan tangan.

Ketika melakukan surat keterangan kesehatan dan asal daging, Sa’diyah dan Sidi Pramono serta Dwi Listiyani sempat terjadi perdebatan dengan penjaga lapak pengepul daging asal luar kota bernama Mulyono. Sebab dalam surat dari Kabupaten Boyolali tersebut tertulis berat daging adalah 150 kilogram. Padahal secara pandangan mata, daging yang dibongkar di lapaknya lebih banyak karena satu mobil L300 penuh.

“ Ini mobil pick up-nya penuh masak cuman 150 kg. Ini pasti lebih. Jadi tidak sesuai antara surat keterangan dan barang muatan ,” tegas Sidi Pramono.

“ Bapak jujur saja, karena nanti malah tidak baik untuk sini. Kalau ini berat dari seekor sapi, berarti sapi yang dipotong itu kecil. Sapi berat 600 kg kalau dipotong itu akan menghasilkan daging rata-rata 300 kg,” tukas Sa’diyah.

Mendengar ketegasan tim Bidang Peternakan ini, Mulyono tidak mampu menjawab pertanyaan dan hanya menyatakan sebagai penjaga lapak milik Mariya Ulfah. Kemudian petugas melakukan pengukuran kadar air, hasilnya angka menunjukkan 80,4 persen. Hal ini menunjukkan daging kondisinya basah atau mengandung banyak air melebihi ambang batas toleransi yaitu 75-76 persen. Karena terdapat perbedaan surat keterangan dan kondisi nyata, maka penjaga lapak itu diminta untuk mengisi surat pernyataan bermeterai akan mentaati aturan yang berlaku dalam penjualan daging di Kudus. Apabila dikemudian hari ditemukan yang disesuai dengan kondisi sebenarnya maka bersedia menerima sanksi yang berlaku.

BAGUS. Inilah hasil pemeriksaan pada daging sapi lokal Kudus sendiri yaitu 73 atau dibawah ambang batas toleransi kadar air.

Tim kemudian menuju ke lapak milik Hajjah Narti yang juga mendatangkan daging sapi dari Kabupaten Boyolali. Hasil pemeriksaan, surat keterangan sesuai dengan kondisi jumlah daging daging. Namun saat pemeriksaan kadar air, diperoleh angka 79,9 persen alias daging dengan kadar air tinggi.

“ Informasi dari penjagal luar kota asal daging sapi ini, tiga hari lagi akan naik Rp 5 ribu. Saya katakan, tidak apa-apa naik karena memang mau lebaran. Tapi kualitanya harus baik, tidak boleh kebanyakan kadar air ,” ucap Narti.

Kondisi lapak milik Narti ini sama dengan Mastur, anak Narti yang lokasi tidak jauh. Kadar air pada dagingnya melebihi ambang toleransi.

Guna mendapatkan perbandingan, tim kemudian melakukan pemeriksaan pada lapak daging penjagal lokal bernama Muslim. Hasilnya, secara pandangan mata dan indera tangan, daging tidak banyak kadar air. Ketika dilakukan pemeriksaan menggunakan alat, hasilnya 73,5 persen.

LUAR KOTA. Alat untuk saat digunakan pada daging dari luar kota menunjukkan kadar air sangat tinggi yaitu 80 persen atau diatas ambang toleransi 75-76 persen.

Dwi Listiyani, Kasie Usaha Sarana dan Prasarana Bidang Peternakan, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan dengan alat memang menunjukkan kelebihan kadar air. Namun pihaknya belum bisa memastikan penyebarnya.

“ Menyimpulkan sumber kadar air itu perlu laboratorium atau juga infomasi dari asal peternak. Sebab belum tentu tingginya kadar air karena gelonggongan atau kebanyakan minum. Mungkin juga karena kehujanan waktu perjalanan kesini atau lainnya. Tetapi yang jelas, dagingnya mengandung kadar air tinggi. Nah, untuk konsumi masyarakat lebih baik kadar airnya yang dibawah ambang toleransi ,” Dwi Listiyani. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kadinpertanpangan, Perhutani dan Peternak Lebah Mulai Hijaukan Logung

Jekulo,- Meski cuaca pagi diguyur hujan lebat, namun program penanaman penghijauan sebagai lokasi penggembalaan lebah ...