Home » Perikanan » Dispertanpangan Perbanyak Pembudidaya Lele Teknologi Bioflok
TEROBOSAN. Catur Sulistiyanto S.Sos MM ( Kadispertanpangan) saat menyampaikan sambutan pembukaan pelatihan Budidaya Ikan teknologi bioflok didampingi Fajar Nugroho SP ( Kabida Perikanan) dan Ita Apriani S.Pi ( Dosen Akademi Perikanan Yogyakarta).

Dispertanpangan Perbanyak Pembudidaya Lele Teknologi Bioflok

Mejobo,- Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai mendorong para pembudi daya ikan lele menggunakan sistem bioflok karena lebih menguntungkan dibandingkan kolam berukuran besar. Oleh karena itu, melalui Bidang Perikanan mengundang 50 orang pembudidaya lele pembesaran secara tradisional untuk dilatih menggunakan teknologi bioflok. Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, Catur Sulistiyanto S.Sos MM, Senin (02/04) di aula Bidang Perikanan.

“ Tahun 2018 ini Dinas Pertanian dan Pangan Kudus memang fokus untuk memajukan perikanan. Baik ikan hias maupun ikan konsumsi. Sehingga nantinya Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota kretek, tetapi juga ikon penghasil ikan yang sehat konsumsi dan ikan hias ,” ujar Catur Sulistiyanto.

MOTIVASI. Kadispertanpangan memberikan semangat pada para pembudidaya lele pembesaran untuk meningkatkan produksi lele dengan teknologi bioflok.

Dijelaskan, terobosan Kudus sebagai wilayah produsen ikan hal yang bisa diwujudkan dengan kebersamaan dinas dan para pembudidaya ikan. Sebagai pembanding adalah, meski di Kabupaten Kudus tidak punya laut tetapi ada sekolah kelautan/maritim yang menjadi tujuan dari warga yang daerahnya memiliki laut.

“ Itu sebagai contoh, bahwa inovasi dan terobosan bisa tercapai bila semuanya bersinergi. Kami hadir di tengah para pembudidaya lele ini atas perintah pak Bupati Kudus H Musthofa untuk melayani masyarakat ,” imbuhnya.

Berdasarkan pengalaman melihat kondisi wisata kuliner di Kudus, Kadispertanpangan mengungkapkan bahwa potensi pemasaran dari lele sangat besar. Hal ini seiring tumbuhnya dunia industri dan naiknya perekonomian masyarakat.

“ Coba bapak-bapak semua lihat kuliner malam di Kudus. Tulisan teratas untuk ikan ada penyetan lele atau lele goreng. Jarang sekali penyet nila atau malah gurami. Namun, ikan-ikan lele yang dimasak itu mayoritas berasal dari luar kota. Tentu, bersatunya para pengusaha lele teknologi bioflok dengan dinas akan mampu menjadikan kudus swasembada lele. Apabila jumlah produksi banyak dan mensuplai kebutuhan kuliner berkesinambungan, maka para pembudidaya akan semakin sejahtera ,” tuturnya.

Fajar Nugroho SP, Kabid Perikanan pada Dispertanpangan, dalam laporannya menyampaikan bahwa

“Saat ini, budi daya ikan lele sistem bioflok di Kabupaten Kudus memang belum begitu populer. Sekarang terbanyak tetap pola tradisional. Untuk itu, kami mencoba mengembangkannya karena lebih efisien baik biaya, waktu, maupun tempat. Untuk saat ini, memang sudah ada percontohan di beberapa lokasi, termasuk di dua pondok pesantren di Kudus yang mendapatkan program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Dengan adanya kolam bioflok percontohan, diiharapkan, pembudi daya ikan lele lainnya yang selama ini menggunakan sistem konvensional bisa mencoba sistem bioflok ,” jelasnya.

Ditambahkan, dorongan penggunaan teknologi bioflok ini juga merupakan bagian dari keprihatinan Dispertanpangan terkait keluhan tingginya harga pakan ikan pabrikan. Sehingga banyak pembudidaya ikan lele yang menghentikan produksinya. Saat ini harga pakan Rp 10.500 perkilogram. Padahal berdasarkan hitungan usaha, pakan berkisar Rp 6 ribu/kg.

“ Tujuan umum dari pelatihan ini teknik budidaya yang baik dan efisien serta pentingnya inovasi untuk paska panen. Pelatihan dibagi dua, pertama 50 orang pembudidaya ikan lele pembesaran dan hari berikutnya 50 ibu-ibu untuk pengolahan ikan paska panen. Kemudian dilanjutkan sekolah lapang ke Yogjakarta ,” ungkapnya.

Melalui pelatihan ini, lanjutnya, diharapkan akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia pelaku usaha perikanan. Sehingga dengan SDM bagus maka hasil produksi juga bagus. Otomatis target capaian produksi ikan lele di Kudus bisa menuju swassembada ikan lele.

TEKNOLOGI. Ita Apriani, Dosen perikanan Yogyakarta dan juga pembudidaya lele sistem bioflok saat memberikan paparan dihadapan 50 pembudidaya lele Kudus.

“ Kami juga terus mengkampanyekan gemar makan ikan. Selain jadi pemasaran para pembudidaya lele , juga menaikkan konsumsi ikan. Sebab berdasarkan data kita, konsumsi ikan di Kudus sampai saat ini baru mencapai 22,4 kilogram perkapita pertahun. Padahal target dari provinsi jawa tengah 35 kilogram perkapita pertahuan. Masih sangat jauh angkanya. Oleh karena itu kami mengajak para pembudidaya lele pembesaran untuk menggenjot produksi dengan teknologi bioflok ,” jelasnya.

Sebagai contoh yang sudah dilakukan pada kolam percontohan dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3, dalam satu kolam bulat ukuran diameter 3 m, dapat ditebar benih lele sebanyak min. 3.000 ekor, dan mampu menghasilkan  lele konsumsi mencapai > 300 kg per siklus (100-110 hari). Artinya jika dibandingkan dengan teknologi konvensional, budidaya sistem bioflok ini mampu menaikan produktivitas > 3 kali lipat. Hal tersebut sangat membantu para pembudidaya lele untuk lebih maju dan semakin produktifitas.

Ita Apriani, narasumber pelatihan teknologi biflok, mengatakan bahwa  sistem bioflok merupakan model pemeliharaan ikan lele dengan cara menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi mengolah limbah menjadi gumpalan kecil yang bermanfaat sebagai pakan alami ikan.

Untuk menumbuhkan mikroorganisme, dipacu dengan pembelian probiotik serta pemasangan aerator untuk menyuplai oksigen sekaligus mengaduk air kolam. Sehingga ikan lele yang dihasilkan jauh lebih higienis karena air dan pakan yang digunakan juga terjaga higienisnya dibandingkan dengan pembudidaya tradisional.

Ita mengakui, pembudi daya ikan lele lainnya mengakui, biaya operasional untuk sistem bioflok memang lebih mahal, namun sebanding dengan hasil panen ikannya, karena tingkat kematian ikannya juga lebih rendah.

“Jika ingin menghemat pakan juga bisa diatur untuk disesuaikan dengan kapan hendak dipanen. Hal terpenting yang perlu diketahui masyarakat bahwa ikan lele yang dipelihara dengan sistem bioflok memang lebih higienis. Karena kualitas airnya selalu dijaga dan kualitas ikannya juga lebih baik karena konsumen sudah membuktikannya,” ujarnya.

Ita mengakui, budidaya lele sistem bioflok ini sangat diminati para pembudidaya lele pembesaran. Namun harus dilaksanakan dengan tertib sesuai SOP teknologi lele bioflok.

“ Kekurangan teknologi bioflok ini memang rumit dalam SOP, membutuhkan ketelitian dan kedisplinan tinggi serta modal besar diawal untuk pembelian sarana prasaran. Seperti kolam terpal bulat dan aeratornya ,” tandasnya . (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Warga Terangmas Dilatih Membuat Pakan Ikan Mandiri

Undaan,- Guna mendukung pendirian BUMDes Perikanan di Desa Terangmas Kecamatan Undaan, puluhan warga dilatih untuk ...