Home » UPT Penyuluhan » Belajar Bertanam Hidroponik dengan Bahagia
GEMBIRA. Para PPL BPP Kaliwungu mengajak peserta pelatihan bercocok tanam hidroponik di sekitar rumah masing-masing.

Belajar Bertanam Hidroponik dengan Bahagia

Kaliwungu,- Virus kebaikan untuk mengajak masyarakat bersemangat bercocok tanam terus disebarkan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus yang dipimpin Catur Sulistiyanto S.Sos MM. Melalui BPP Kaliwungu, kali ini mengajak kaum muda, perangkat desa dan ibu-ibu PKK untuk bertanam secara hidroponik.  Acara berjudul program pelatihan urban farming sebagai bagian pemberdayaan penyuluh pertanian/perkebunan lapangan dilaksanakan pada Selasa sampai Kamis (24-26/04). Peserta dilatih untuk bercocok tanam secara hidroponik.

Pada hari pertama (selasa), sebagai narasumber yakni Ali Hamidy yang memberikan materi tentang Pemberdayaan masyarakat dan Ariyanto dengan materi Pengenalan urban farming dan desain lahan pekarangan.

INOVASI. Ariyanto saat memaparkan bagaimana memanfaatkan pekarangan rumah secara maksimal untuk pertanian.

Pada hari kedua, Manajemen produksi dan budidaya tanaman sayur secara hidroponik oleh Susi Apriliana dan dilanjutkan Noor Hudha Ahmada dengan materi Teknik Budidaya Vertikultur. Kemudian hari Kamis-nya, dilakukan praktik penyusunan alat dan bahan serta cara bercocok tanam.

Ariyanto memaparkan bahwa lahan pekarangan sudah lama dikenal dan memiliki fungsi multiguna. Misalnya, untuk penghijauan, tanaman sayuran dapat menjadi kebutuhan sayur. Sebagai salahsatu bentuk penyaluran hobi.

“ Akan timbul rasa bangga jika mampu memanen dan mengkonsumsi sayuran yang ditanam sendiri. Bahkan mungkin sayang kalau mau memanen. Rasa mboheman ,” ucap Ariyanto.

Selain itu, sambungnya, diperoleh sayuran yang lebih terjamin kebersihan dan mutunya. Sebab penggunaan pestisida yang dapat ditekan semaksimal mungkin. Bertanam sayuran di sekitar rumah juga berarti melatih seluruh anggota keluarga untuk lebih mencintai alam. Bahkan ditengah kondisi harga bahan kebtuhan pokok naik, menanam sayur mayur di kebun dapat turut membantu perekonomian dalam rumahtangga.

“ Maksutnya, kalau hasilnya lebih banyak dari konsumsi untuk keluarga sendiri kan bisa dijual ke pasar ,” tukasnya.

SERIUS. Nurhuda saat menjelaskan jenis-jenis bahan untuk bertanam hidroponik.

Dijelaskan, pola tanam di pekarangan ada tiga yakni Tanaman Sisi rumah, tanaman belakang rumah dan tanaman pagar. Untuk tanaman sisi rumah, sebaiknya jenis tanaman sayur-sayuran, obat-obatan dan bumbu-bumbuan dengan menghindari tanaman yang berpohon tinggi apalagi berpohon besar. Tanaman yang berpohon besar akan berakar besar pula sehingga bisa merusak pondasi rumah disamping pekarangan menjadi sangat lembab.

Pada Tanaman Belakang Rumah, bisa dilakukan dengan jenis tanaman yang pohonnya agak tinggi tetapi tidak begitu besar dan pilih yang bisa memberikan hasil secara terus-menerus dan bisa juga tanaman hias yang mempunyai harga relatif tinggi atau mahal. Sedangkan Tanaman pagar dimaksutkan sebagai tanaman batas pekarangan hendaknya dipergunakan pagar hidup yang cepat tumbuh, banyak cabang, kuat dan lebat, tanah pangkas dan bermanfaat banyak.

“ Misalnya, beluntas bisa dipakai untuk obat dan lalap, tanaman puring, mongkokun, kedondong, belimbing dan lain sebagainya ,” paparnya.

Noor Hudha Ahmada memberikan materi Teknik Budidaya Vertikultur hidroponik. Penanaman secara Vertikultur adalah penanaman tanaman yang ditata secara tegak lurus atau vertikal. Jenisnya bisa menggunakan rak (talang dan bambu) dan tabung (plastik, paralon dan lainnya).  Sedangkan jenis tanamannya adalah sayuran daun seperti sawi, selada, bayam, kangkung. Jenis tanaman bumbu seperti daun bawang, kucai, seledri dan kemangi.

“ Kita mengajak penanaman secara bertingkat atau dikenal dengan hidroponik ini karena secara geografis luas wilayah sekitar rumah di kawasan perkotaan tidak sama dengan wilayah pedesaan. Oleh karena itu tentu teknik budidaya tanaman harus menggunakan teknologi yang memungkinkan produktifitas tinggi pada lahan sangat terbatas ,” jelas Hudha.

Keunggulan teknologi Hidroponik karena bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah dan hemat lahan. Tidak menggunakan pestisida sehingga aman untuk dikonsumsi. Pemakaian air relatif lebih sedikit dibandingkan metode tanam dengan menggunakan media tanah.  Produktifitas lebih tinggi karena tanaman dapat dibudidayakan tanpa mengenal musim.

“ Dan yang pasti dan disukai generasi zaman now adalah tidak kotor terkena tanah, pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman dapat terjaga. Itu kan memang khas generasi muda sekarang, nanam tapi tidak kotor dan hasilnya cepat ,” cetus Hudha.

Media tanam hidroponik, selain pipa-pipa untuk tumbuhnya tanaman adalah tandon nutrisi yang bisa berupa box kontainer plastik  atau ember. Alas untuk media tanam menggunakan rockwool sehingga tidak memerlukan tanah.

“ Untuk tandon nutrisnya, jangan membeli yang bening atau transparan ya.. sebab kalau terkena sinar matahari maka kandungan nutrisi akan berkurang. Jadi kalau punya tabungnya bening, sebaiknya dicat pada bagian luarnya. Kalau untuk perkiraan biaya media tanam dengan lahan minimal seperti untuk praktik ini sekitar Rp 800 – Rp 1 Juta. Tergantung merk pipa masing-masing ,” terangnya sambil menunjuk susunan rangkaian hidroponik untuk praktik peserta.

ANTUSIAS. Para siswi MA Muallimat NU Kudus bersemangat ingin paham lebih dalam tentang hidroponik dan manfaatnya.

Menanggapi acara ini, Hj Marsini, pemilik PAUD asal desa Prambatan Kidul, mengaku sangat senang dan termotivasi untuk segera memiliki peralatan bercocok tanam hidroponik. Hal ini berdasarkan pengalaman sebelumnya, dimana saat mengikuti acara lomba rumah sehat dirinya meminjam pada komunitas hidroponik.

“ Saya ingin segera punya untuk ditaruh di halaman. Rumah akan terlihat segar, selain saya juga suka dengan sayur-sayuran. Nanti kita tiga orang mewakili PKK desa siap mengajak ibu-ibu PKK lainnya untuk berkebun secara hidroponik ,” kata Hj Marsini.

 

KAMPUNG HIDROPONIK.

Sholikan, Kasie Pemerintahan Desa Mijen –peserta pelatihan-, mengungkapkan bahwa sangat mendukung acara pelatihan bercocok tanam hidroponik oleh Dinas Pertanian dan Pangan Kudus. Sebab hal ini selain sebagai solusi untuk mendapatkan sayuran yang sehat, juga bisa memberdayakan masyarakat untuk menambah penghasilan.

“ Kami senang kalau ada program-program dari Pemkab Kudus seperti yang dilaksanakan Dinas Pertanian ini. Langsung kongkrit bersentuhan dengan masyarakat, bukan hanya retotika dan wacana. Kami sangat berterimakasih bisa ikut program ini ,” kata Sholikan didampingi Muhammad, Kepala Dusun Padaran dan Sutikno, Kasie Kesra Desa Mijen.

Pria yang juga menjabat sebagai Plt Sekdes Pemdes Mijen itu menegaskan akan segera melakukan pembahasan dengan Kepala desa, perangkat dan BPD untuk menyusun program pelatihan hidroponik pada warga desa menggunakan Dana desa tahun anggaran 2019. Sebab, berdasarkan nomenklatur penggudaan dana desa diantaranya yakni pemberdayaan masyarakat.

“ Nanti 2019 insyallah akan masuk program pemberdayaan masyarakat untuk pelatihan hidroponik ini. Kami akan mengirimkan surat ke Dinas Pertanian dan Pangan untuk diberikan bantuan tenaga narasumber pelatihan hidroponik ,” tegas Sholikan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Gerak Cepat Dispertanpangan Atasi Serangan Ulat Bulu

Kota,- Pelayanan cepat mengatasi masalah ditengah masyarakat terus dilakukan jajaran Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) ...