Home » Perikanan » Warga Terangmas Dilatih Membuat Pakan Ikan Mandiri
Fajar Nugroho, Kabid Perikanan (tengah) dan Sudarno ( Kades Terangmas) dan pihak BBPP Kemenaker RI.

Warga Terangmas Dilatih Membuat Pakan Ikan Mandiri

Undaan,- Guna mendukung pendirian BUMDes Perikanan di Desa Terangmas Kecamatan Undaan, puluhan warga dilatih untuk membuat pakan ikan mandiri di Balai Desa Terangmas. Acara ini merupakan program Balai Besar Peningkatan Produktifitas ( BBPP) Kementerian Tenaga Kerja RI bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) Kudus berlangsung selama dua hari yaitu tanggal 17-19 Oktober 2017.

Catur Sulistiyanto S.Sos MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus menunjuk Fajar Nugroho SP, Kepala Bidang Perikanan sebagai salahsatu narasumber pelatihan. Pemilihan Desa Terangmas Kecamatan Undaan berdasarkan jumlah penduduknya yang mencapai 80 persen merupakan pelaku usaha budidaya ikan. Dari jumlah penghuni 600 KK, 400 KK mengembangkan usaha kolam lele.

Para peserta pelatihan sedang praktik di halaman Balai Desa Terangmas Kecamatan Undaan.

Fajar Nugroho, Kabid Perikanan Dispertanpangan, menerangkan bahwa tujuan dari pelatihan pakan ikan mandiri ini ada tiga. Yaitu menambah pengetahuan, merubah sikap dan skill atau mengajarkan ketrampilan.

“ Pengetahuan itu dari belum tahu menjadi tahu. Merubah sikap adalah bisa menyelesaikan masalah yang sebelumnya terjadi yaitu terkait dengan pakan. Sedangkan skill, dengan adanya pelatihan kewirausahaan ini agar peserta mampu membuat pakan ikan sendiri ,” kata Fajar Nugroho di hadapan peserta pelatihan.

Dijelaskan, hampir semua pelaku usaha budidaya ikan mengeluhkan tentang mahalnya harga pakan ikan lele dari pabrikan. Saat ini mencapai 10-11 ribu perkilogram. Padahal harga jual dari ikan lele hasil panen di pasaran hanya Rp 14-16 ribuan perkilogram. Nah, melalui pelatihan pembuatan pakan ikan mandiri memanfaatkan bahan baku lokal ini diharapkan bisa menekan biaya serendah-rendahnya namun kualitas pakan tidak jauh berbeda dengan pabrikan.

Berdasakan perhitungan dari tim Bidang Perikanan Dispertanpangan Kudus, biaya produksi untuk pembuatan pakan mandiri sampai siap lempar ke kolam hanya Rp 5 ribu atau 50 persen harga pakan pabrikan. Kondisi di Desa Terangmas Kecamatan Undaan sangat memungkinkan menggunakan bahan baku lokal sehingga bisa diupayakan biaya produki berkurang lagi.

Bentuk pelet pakan ikan hasil praktik siap diberikan ke ikan di kolam budidaya.

“ Misalnya, bahan ikan bisa digantikan dengan keong yang banyak terdapat di areal persawahan atau ikan kecil-kecil di sungai. Bekatul bisa membeli dari penggilingan padi yang terdapat di desa sini. Jadi kita memang benar-benar mengarahkan supaya menggunakan bahan baku lokal setempat ,” terangnya.

Ditambahkan, usaha budidaya perikanan merupakan bisnis berprospek di masa depan. Sebab berdasarkan informasi yang diterimanya, saat ini masyarakat akan semakin membutuhkan konsumsi ikan. Karena dalam ikan terdapat omega tiga pendukung perkembangan otak manusia. Selain itu, modal awal yang dibutuhkan untuk budidaya ikan relatif sedikit bila dibandingkan dengan usaha di bidang peternakan. Maksutnya, pada hewan ternak terlihat omset uang besar namun juga membutuhkan modal besar. Padahal beranaknya terbatas.

“  Kalau ikan, misalkan lele. Sekali bertelur itu mencapai 50 sampai 100 ribu. Disinilah keuntungan dari budidaya ikan ,” imbuhnya.

Sudarno, Desa Terangmas Kecamatan Undaan, mengucapkan sangat berterimakasih wilayahnya menjadi tempat pelatihan pakan ikan mandiri. Sebab pihaknya sudah mendirikan BUMDes bidang perikanan pada hari kamis minggu lalu. Dalam program kerjanya, masyarakat pelaku usaha ikan lele akan dibagi tugas menjadi tiga bagian. Yaitu, bagian produksi ikan termasuk membuat pakan sendiri, pengolah ikan yaitu ibu-ibu PKK dan Karang Taruna mendapat bagian sebagai pemasaran.

“ Jadi setelah ini, kami meminta yaa, sekali lagi meminta bukan berharap. Supaya Dinas Pertanian dan Pangan melatih para ibu-ibu PKK untuk mengolah ikan lele menjadi olahan kemasan. Sehingga mampu menaikkan harga jual yang pada akhirnya mensejahterakan masyarakat kami. Kalau memang masih ada program bantuan mesin pembuat pakan mandiri, kami juga berharap bisa mengaksesnya ,” kata Sudarno.

Pria berkumis ini mengungkapkan bahwa para pelaku usaha budidaya ikan lele di desanya hanya libur ketika bulan Agustus. Hal ini karena air yang masuk desa dari Waduk Kedungombo dihentikan. Kemudian pada bulan September seiring bersamaan dibukanya kembali aliran irigasi ke kawasan Undaan.

“ Selama ini kami hanya menjual lele dalam bentuk mentah hasil panen ke tengkulak. Jadi sekali lagi berharap ada pelatihan olahan ikan untuk menjadi makanan atau camilan kemasan ,” tandasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pembudidaya Ikan Gurami di Kudus Mulai Tumbuh

Mejobo,- Upaya Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus untuk mengajak masyarakat melakukan budidaya ikan gurami, ...