Home » Sekretariat » Ulama dan Umara Bersatu untuk Kemajuan Perikanan Penuh Berkah
ULAMA DAN UMARA. Fajar Nugroho (Kabid Perikanan), Abdullah Zaim, Ziaurrahman, KH Ulin Nuha dan Catur Sulistiyanto di ruang Kadispertanpangan.

Ulama dan Umara Bersatu untuk Kemajuan Perikanan Penuh Berkah

Mejobo,- Program Bupati Kudus H. Musthofa SE MM dengan slogan Gusjigang (Bagus, Pinter Ngaji, Pinter Dagang) melalui penyatuan kerjasama Ulama dan Umara dalam dunia usaha dilaksanakan oleh Dinas Pertanian dan Pangan yang dipimpin Catur Sulistiyanto S.Sos MM.

AKRAB. Catur Sulistiyanto berbincang tentang pengembangan perikanan di Kudus kedepan.

Hal ini terlihat saat kedatangan KH Ulin Nuha (salahsatu ustad di PP Yanbu’ul Quran Menawan), utusan KH Ulin Nuha Arwani selaku pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Quran didampingi Muh Ziaurrahman, pengelola kolam ikan PP Yanbu’ul Quran di Desa Menawan Kecamatan Gebog  dan Ustadz Abdullah Zaim (mewakili KH Syehrozi), dari PP Darussalam Al Ahyar Desa Gondang Manis Kecamatan Bae ke Kantor Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan). Kedatangan rombongan ini diterima langsung oleh Catur Sulistiyanto didampingi Fajar Nugroho, Kepala Bidang Perikanan pada Dispertanpangan, Senin (30/10).

KH Ulin Nuha, menceritakan bila tahun 2017 ini pihaknya mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat yakni paket kolam lele sistem bioflok. Isinya 12 kolam terpal berukuran 3 meter persegi, bibit dan pakan serta konstruksi bangunannya. Ini merupakan progam bioflok tahap II tahun 2017.

“ Jadi nanti kami mohon adanya pendampingan untuk pelaksanaan budidaya yang baik. Sebab kami masih baru di dunia ikan lele. Selain itu juga terkait dengan pemasarannya ,” ujar Ulin Nuha sambil tersenyum.

Kiai muda Kudus ini juga memperkenalkan santrinya yang menjadi penanggungjawab untuk pengelolaan kolam ikan lele. Sebab, Selasa sore akan berangkat untuk mengikuti pelatihan budidaya lele sistem bioflok di balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar ( BBPBAT) Sukabumi. Bimbingan teknis berlangsung mulai Rabu sampai Jumat (1-3) November 2017.

USAHA DAN DOA. Melalui budidaya ikan lele konsumsi di pesantren diharapkan terjadi percepatan swasembada ikan di Kudus.

Alhamdulilah, selama ini kita juga sudah bekerja sama baik dengan Pemkab Kudus untuk pembinaan rohani. Nah, sekarang kita bekerja sama untuk wirausaha. Semoga berhasil baik dan barokah ,” imbuhnya.

Abdullah Zaim dari Darusalam Al Ahyar, menambahkan bahwa kedatangannya bersama Ulin Nuha merupakan wujud dari bersatunya Ulama dan Umara di Kudus untuk bersama-sama memajukan dunia usaha khususnya perikanan.

“ Setelah kami melakukan budidaya lele ini, selain untuk konsumsi para santri juga untuk dijual guna menambah pendapatan lembaga. Karena itu, kami berharap adanya fasilitasi bantuan pemasaran untuk para UKM pengolah ikan dibawah binaan dinas ,” tukas Abdullah Zaim.

Menanggapi hal ini, Catur Sulistiyanto, menjelaskan bahwa mulai tahun 2018 nanti pihaknya fokus memajukan dunia perikanan baik ikan konsumsi maupun ikan hias. Namun dengan kedatangan dua ulama perwakilan dari pondok pesantren maka programnya bisa menjadi lebih cepat terwujud.

“ Sabtu kemarin kita sudah program menata Balai Benih Ikan Margorejo untuk pusat pengembangan dan perdagangan ikan hias. Alhamdulilah dengan sekarang dukungan pak Ulin Nuha dari Yanbu’ul Quran dan Pak Zaim dari Darussalam Al Ahyar, kami semakin yakin bahwa program kami menjadi lebih klop. Sebab dengan bersatunya kita maka wirausaha jadi diiringi penuh doa sehingga hasilnya penuh berkah dan memberikan manfaat untuk masyarakat Kudus seperti yang dicita-citakan Bapak Bupati Kudus H. Musthofa ,” terang Catur Sulistiyanto dalam suasana perbincangan akrab.

BERSATU. KH Ulin Nuha (utusan KH Ulin Nuha Arwani)  saat berpamitan dengan Catur Sulistiyanto sebelum meninggalkan ruangan kepala dinas.

Bapak dua ini berharap, PP Yanbu’ul Quran dan Darussalam Al Ahyar menjadi duta pertama dalam pengembangan ikan lele konsumsi berbasis pesantren. Berdasarkan informasi yang diterimanya, program lele bioflok ini diutamakan untuk konsumsi para santri. Sehingga menjadi generasi yang berkecukupan vitamin.

“ Tapi dengan jumlah 12 kolam yang masing-masing berisi 3-4 ribu ekor lele, maka pasti panennya akan berlebih dan bisa dijual ke pasar untuk hasilnya dipergunakan operasional pesantren. Kalau soal pemasaran jangan khawatir, pasar di Kudus ini masih sangat kurang pasokannya. Selama ini diisi dari luar kota ,” lanjutnya.

“ Kemarin pas kami ke Kementerian Kelautan dan Perikanan dipesankan supaya santtri makan ikan seminggu minimal 3 kali ,” cetus Ulin Nuha.

Mendengar hal ini, Catur Sulistiyanto sepakat bahwa generasi mendatang harus berkecukupan gizi. Oleh karena itu pihaknya berharap sinergi Umara dalam hal ini diwakili Dinas Pertanian dan Pangan dengan kalangan Ulama untuk wirausaha bidang perikanan akan terus belanjut.

“ Tahun 2018 nanti juga sudah ada tiga lembaga pendidikan yang proposalnya sudah sampai ke Kementerian Perikanan. Jadi, Ustad Ulin dan Ustad Zaim ini sebagai pembuka pintu pengembangan budidaya ikan lele sistem bioflok ,” tuturnya.

Sementara Fajar Nugroho menambahkan bahwa dengan budidaya perikanan berbasis pesantren ini diharapkan menjadi pelopor bersatunya wirausaha dan doa. Sehingga hama yang menyerang ikan budidaya lebih minimal bahkan tidak ada.

“ Isyallah kalau wirausaha perikanan beriringan dengan doa, maka hasilnya akan melimpah dan berkah ,” tandasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Catatan SAE 2017 (03) : Raih Juara III Kontes Induk Nila Unggul Tingkat Jawa Tengah

Temanggung,- Gelaran Soropadan Agro Expo (SAE) 2017 sudah berakhir beberapa waktu lalu, Dinas Pertanian dan ...