Home » UPT Penyuluhan » Petani Stok Pupuk Bersubsidi Untuk Pemupukan Tahap II
STOK AMAN. PPL Desa Terangmas bersama Sudarno, Kepala Desa Terangmas di rumah Forkhan, Ketua Gapoktan Terangmulyo yang sudah mengamankan stok pupuk di rumahnya.

Petani Stok Pupuk Bersubsidi Untuk Pemupukan Tahap II

Undaan,- Menindaklanjuti keluhan masyarakat pertanian terkait kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi, KP3 ( Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida) Kudus langsung turun ke lapangan mulai Rabu sampai Kamis. Hasilnya, jumlah pupuk bersubsidi yang beredar sudah sesuai dengan RDKK ( Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) petani. Namun tim yang terdiri dari Dinas Pertanian Pangan, Dinas Perdagangan, Bagian Perekonomian dan Polres itu menemukan tentang adanya satu penyalur yang menimbun pupuk tidak sesuai dengan izin yang dimiliki. Penemuan ini terdapat di dusun masin Desa Kandangmas kecamatan Dawe.

“ Penyalur ini langsung ditangani oleh Polres Kudus ,” ungkap Abdullah Muttaqin, anggota KP3 Kudus, Kamis (02/11).

Abdullah Muttaqin saat di penyalur pupuk Tani Mabrur menemukan jumlah Urea yang terlalu banyak sedangkan SP 36 bersubsidi tidak ada namun Phonska non Subsidi menumpuk.

Menurut Muttaqin, pihaknya sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengawasan titik-titik yang diperkirakan terjadi penyimpangan alur distribusi pupuk bersubsidi. Mulai dari Desa Mijen kecamatan Kaliwungu, Desa Kedungdowo, Desa Banget, Desa Klumpit, Desa Piji, Margorejo, Glagah Kulon dan Kandangmas kecamatan Dawe.

“ Hampir semua penyalur menyatakan stok masih ada dan aman. Kita temuka para petani yang tergabung dalam kelompok tani di kecamatan Kaliwungu sudah pada stok pupuk di rumah untuk persiapan pemupukan tahap II. Sedangkan yang kosong di Desa banget, katanya sudah minta ke Distributor namun belum ada tanggapan. Khusus yang di desa Kandangmas itu pelanggarannya adalah dia hanya penyalur pupuk urea saja. Namun di gudangnya dia menimbun pupuk NPK dan ZA ,” terangnya.

Kemudian pada kamis pengawasan dilanjutkan ke Kecamatan Undaan. Hasilnya hampir sama yakni para petani yang tergabung dalam kelompok tani yang lahannya sebagai dasar pengajuan RDKK sudah menyimpan stok di rumah masing-masing. Hal ini terlihat misalnya di rumah Forhan yang juga ketua Gapoktan Terangmulyo Desa Terangmas kecamatan Undaan. Di ruang tamu rumahnya terdapat 8 sak NPK phonska dan dua zak Urea.

Gapoktan Terangmulyo membawahi empat poktan yaitu Sidomulyo I, Sidomulyo II, Sidorejo dan Sidomukti. Sedangkan untuk penyalur pupuk bersubsidi desa Sambung stok masih kosong karena belum dikirimi oleh Distributor.

Stok pupuk NPK phonska untuk pemupukan tahap II di teras rumah Sugiahsumo.

“ Hampir semua anggota kelompok tani kita sudah menyiapkan stok di rumah masing-masing untuk pemupukan tahap II. Kalau tahap satu kan sudah pada awal musim tanam. Sekarang umur tanaman memasuki 15 hari sehingga membutuhkan urea dan phonska. Kalau kami aman pupuknya ,” ucap Forchan yang didampingi Sudarno, Kepala Desa Terangmas.

Selain Forchan, anggota poktan lainnya yang juga menyimpan stok adalah Ngatno dan Sugiahsumo. Tindakan ini merupakan sudah menjadi budaya para petani karena untuk menjaga kelangsungan pertaniannya.

“ Selama ini memang kita hanya melihatnya SP36, tapi setelah mendapatkan penjelasan dari PPL kalau NPK juga fungsinya sama ya kita beli itu. Jadi, intinya kami yang dari gapoktan aman dalam kebutuhan pupuk. Mungkin yang kesulitan itu petani ( tidak masuk poktan) atau orang yang baru turun ke pertanian jadi belum dikenal para penyalur. Sehingga dijuali pupuk yang nonsubsidi. Namanya pupuk nonsubsidi ya mahal ,” jelasnya.

Holil, pemilik toko Tani Mabrur yang melayani petani desa Terangmas, menambahkan bahwa stok pupuk SP36 bersubsidi yang sekarang dibutuhkan jumlahnya menipis. Namun untuk pupuk urea yang belum dibutuhkan petani malah melimpah.

Forchan berada di sawahnya yang berumur seminggu dan segera pemupukan tahap dua.

“ Masalah ini sebenarnya sudah bertahun-tahun. SP36 bersubsidi di kita langsung habis karena poktan sudah langsung mengambilnya begitu turun dari truk agen. Yang masih banyak ya pupuk NPK non subsidi dengan harga dua kali lipat. Kita diwajibkan dari distributor untuk menjual ini sampai habis, baru boleh mengambil phonska yang bersubsidi lagi ,” tuturnya.

Menanggapi hal ini, Abdullah Muttaqin berharap jajaran kepolisian dan TNI untuk memberikan tindakan tegas. Sehingga tidak terjadi lagi petani mengalami kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi.

“ Khusus untuk penyalur desa Sambung, katanya Distributornya minta tambahan jatah RDKK. Padahal setelah kita cek ke poktan dan PPL sudah sesuai dengan kebutuhan. Kalau kita turuti tentu akan ditemukan hal aneh, masak sawahnya bertingkat. Lha karena ada RDKK dobel. Karena pihak penyalur tidak mau melakukan penambahan RDKK, maka sekarang kosong. Tidak tahu petaninya mendapatkan pupuk bersubsidi dari mana ,” tandasnya.  (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kadispertanpangan Kawal Pembukaan Pintu Air ke Wilayah Undaan

Klambu,- Guna memastikan air dari waduk Kedungombo mengalir ke Kecamatan Undaan Kudus sesuai jadwal yakni ...