Home » Tanaman Pangan dan Perkebunan » Pelatihan Perawatan Mesin Pertanian untuk Petani dan Operator
PELATIHAN. Ratih Rustyorini (Kasi Sarpras Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan) bersama Sri Wahyono ( Balatsintan Provinsi Jateng) dan Soenarto ( Koordinator PPL kecamatan Undaan).

Pelatihan Perawatan Mesin Pertanian untuk Petani dan Operator

Undaan,- Guna mendukung mekanisasi dunia pertanian di wilayah Kabupaten Kudus, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) yang dipimpin Catur Sulistiyanto S.Sos MM bekerja sama dengan Balai Alat Mesin Pertanian (Balatsintan) Provinsi Jawa Tengah mengadakan pelatihan perawatan alat mesin pertanian. Acara ini berlangsung dua hari, Rabu-Kamis (01-02/11) dengan peserta petani penerima bantuan alsintan dan operator Brigade Alsintan di BPP Undaan, Rabu (01/11).

SERIUS. Para peserta yang terdiri dari operator brigade dan kelompok tani serius mengikuti pelatihan.

Ratih Rustyorini, Kasi Sarana dan Prasarana pada Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan Dispertanpangan Kudus, mengatakan bahwa peserta pelatihan ini banyak orang baru yang belum memahami detil tentang perawatan alat mesin pertanian. Selain itu juga guna meningkatkan kualitas Sumberdaya manusia operator brigade alsintan Dispertanpangan.

“ Pelatihan ini khusus untuk perawatan alsintan jenis Combine Harvester dan Rice Transplanter. Kenapa traktor tidak termasuk ?, sebab hampir semuanya sudah pada pinter untuk merawat traktor ,” kata Ratih Rustyorini dalam sambutannya.

“ Mesin Combine dan transplanter ini kan agak riwil. Jadi perlu pelatihan khusus supaya mesin-mesin awet dan tidak mudah rusak. Sehingga memiliki umur penggunaan lebih lama ,” imbuhnya.

Dijelaskan, pada waktu lima tahun kedepan dunia pertanian di Kudus akan semakin banyak yang bergantung pada mesin-mesin teknologi. Hal ini seiring dengan semakin berkurangnya jumlah tenaga kerja pertanian. Berdasarkan datanya, saat ini tenaga kerja untuk menanam padi di wilayah Kudus selain mulai sulit juga tidak ada regenerasi. Padahal kondisi umur mereka rata-rata diatas 40 tahun.

Para peserta bergantian melihat bagian-bagian mesin yang ditunjukkan oleh teknisi dari pabrikan mesin combine harvester.

“ Nanti kalau sudah berumur 50 tahun ke atas tentu sudah tidak bisa turun ke sawah lagi karena biaya perawatan pijat lebih mahal dibandingkan penghasilan menanam. Jadi solusinya penggunaan mekanisasi mesin pertanian. Kami berharap, para peserta bisa mengikuti dengan serius sehingga benar-benar paham untuk dipraktekkan nantinya ,” terangnya.

Sri Wahyono, perwakilan dari Balatsintan Provinsi Jawa Tengah, menambahkan bahwa pelatihan ini sangat penting karena selama ini pelatihan yang dilakukan oleh pihak produsen hanya sekedar memenuhi kewajiban pengiring penjualan. Selain kurang detil juga waktunya hanya sebentar. Karena itu pihaknya mendukung penuh program pelatihan perawatan mesin pertanian di Kabupaten Kudus selama dua hari.

“ Mulai awal Tahun 2017 ini pemerintah membentuk brigade alsintan. Namun berdasarkan data kita, mayoritas tenaga SDM brigade di kabupaten-kabupaten memang sudah pandai mengoperasikan alsintan, namun sangat minim keahlian perawatan. Seharusnya anggota brigade lebih pintar dari petani ,” cetus Sri Wahyono.

Pria parohbaya itu mencontohkan terkait masih banyaknya yang tidak memahami caranya mengganti oli transimi di gearbox. Namun semuanya hanya bisa mengganti oli mesin saja. Selain itu, ketika mengganti oli gearbox juga harus sekaligus ganti filter udara.

Lebihlanjut diungkapkan, pada mesin Combine Harvester terdapat lima titik penting yang perlu mendapatkan perawatan khusus. Yakni Roda, Pemotong, Conveyor, perontokan dan pembawa rontokan.

“ Khusus rantai conveyor, kita harapkan jangan gunakan paslin atau oli. Tapi ganti pelumasnya menggunakan minyak goreng. Sebab ini berkaitan dengan pangan manusia. Dikhawatirkan bisa mencemari padi yang nantinya akan kita konsumsi. Kalau diganti dengan minyak goreng tentu akan lebih aman. Memang kelemahannya minyak goreng ini cepat kering. Ya nanti bisa disiapkan beberapa kemasan untuk dibawa saat operasional mesin Combine-nya ,” paparnya.

Sedangkan terkait dengan mesin Rice Transplanter, Sri Wahyono mengungkapkan ada titik yang harus mendapatkan perhatian lebih. Yaitu bagian pengambil bibit, penanam dan pendorong. Sebab, pada titik pengambit bibit ini akan terganggu apabila tempat yang dipakai untuk persemaian bibit terdapat benda seperti batu atau benda keras lainnya bisa menyebabkan patah. Begitu pula pada penanam yang bahannya terbuat dari mesin tipis dengan ketebalan 2 milimeter.

Kemudian bagian pendorong terdapat karet peredam yang membutuhkan perhatian perawatan. Rangkaian bagian disini apabila terjadi kerusakan harganya cukup mahal dan harus antre saat pembelian. Yakni Rp 350 ribu di Klaten.

“ Khusus bagian karet di mesin Transplanter yang berbentuk bulat, kalau terjadi kerusakan petani kita lebih cerdas solusinya. Yaitu dengan mengganti dari sandal jepit dibentuk bulat ukuran sama. Namun demikian, yang kita tekankan disini adalah supaya petani ataupun operator melakukan perawatan secara rutin terutama sebelum penggunaan mesin. Sehingga umur pemakaian lebih panjang dan tidak banyak memakan banyak biaya ,” jelasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dispertanpangan Sinergi dengan Akademisi Latih Petani Kedelai

Mejobo,- Guna mendukung program pemerintah untuk meningkatkan produksi kedelai yang merupakan bagian dari Upsus Pajale ...