Home » Perikanan » Kudus Genjot Produksi Ikan Konsumsi Berbasis Komunitas
MONITORING. Fajar Nugroho ( Kabid Perikanan), KH Saeroji dan Ami Putri ( Kasie Produksi Perikanan) di lokasi pembangunan kolam bioflok bantuan KKP RI untuk PP Al Ahyar Darussalam Desa Gondangmanis.

Kudus Genjot Produksi Ikan Konsumsi Berbasis Komunitas

Bae,- Program peningkatan budidaya perikanan baik ikan hias maupun konsumsi yang digagas Catur Sulistiyanto S.Sos MM, selaku Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) Kudus sebagai wujud implementasi misi Bupati Kudus H. Musthofa menuju masyarakat makin sejahtera, mengalami percepatan. Hal ini setelah sinergi antara ulama, umara dan masyarakat sebagai representasi Gusjigang sekaligus Kudus semakin modern dan religius.

Terbukti, Kabupaten Kudus tahun ini menerima bantuan proyek bantuan budidaya lele menggunakan teknologi bioflok dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. Sebanyak dua paket bantuan disalurkan ke Pondok Pesantren Al Ahyar Darussalam Desa Gondangmanis Kecamatae Bae dan satu paket untuk Pondok Pesantren Yanbu’ul Quran Desa Menawan Kecamatan Gebog.

SINERGI. Berawal dari ruangan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan ini sinergi umara (Catur Sulistiyanto) dan ulama ( Ponpes Yanbu’ul Quran dan Ponpes Al Ahyar Darussalam) untuk memajukan perikanan kudus berkah.

Catur Sulistiyanto, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, melalui Fajar Nugroho, Kepala Bidang Perikanan, mengatakan bahwa proyek senilai masing-masing paket Rp 200 jutaan itu dalam bentuk pembangunan fisik. Yaitu kolam terpal, benih lele, pakan dan konstruksi bangunan.

“ Alhamdulillah, program peningkatan dunia perikanan yang rencananya mulai tahun 2018 ternyata pelaksaannya lebih cepat. Ini semua berkat sinergi Dinas Pertanian dan Pangan yang berikhtiar melalui usaha menyusun program didukung doa para ulama. Gusti Alloh SWT meridloi, jadi belum masuk 2018 sudah langsung berjalan ,” ujar Fajar Nugroho.

Menurut Fajar Nugroho, bantuan budidaya teknologi bioflok merupakan program khusus dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pondok-pondok pesantren, kelompok pendidikan (yayasan) dan kelompok masyarakat di perbatasan. Setiap paket berupa 12 kolam berdiameter 3 meter, 42.000 ekor benih lele berukuran 8-9 cm per ekor, 3,2-4 ton pakan, obat, probiotik dan sarana serta prasarana operasional (konstruksi).

Abdullah Zaim bersama H. Nurkholis dan KH Saeroji berbincang d disela-sela melihat pembangunan atap kolam.

Teknologi bioflok diyakini sangat efisien dengan feed convertion ratio (FCR) 0,8. Artinya, budidaya hanya membutuhkan 0,8 kg pakan untuk menghasilkan 1 kg lele. Pasalnya, selain makan pelet, lele juga makan flock atau gumpalan yang terdiri atas organisme hidup, seperti alga dan bakteri, sehingga memudahkan pencernaan.

” Ini juga bertujuan untuk peningkatan gizi masyarakat pondok pesantren dan siswa dari kelompok pendidikan ,” tukasnya.

Setelah masa pemeliharaan 2,5-3 bulan, pihaknya berharap hasil panen mencapai 4,7 ton per panen per paket. Atau 14,1 ton per paket per tahun dengan nilai produksi Rp 212,6 juta per tahun. Dengan biaya produksi 30 persen, keuntungan pembudidaya bisa mencapai Rp 148 juta per tahun.

Teknologi bioflok ini dinilai mempunyai beberapa keunggulan antara lain efisien tempat, kepadatan lebih tinggi dan efisien pakan. Diakui bahwa saat ini teknologi bioflok di Kudus belum banyak dikembangkan. Sehingga bantuan ini sekaligus bisa menjadi pilot project dan obyek studi banding bagi masyarakat yang ingin mengembangkan budidaya ikan menggunakan teknologi bioflok.

“ Kami dari Dinas sesuai arahan pak Kepala Dinas, berharap agar bantuan ini dikelola dengan profesional. Ini adalah anugerah luar biasa sehingga bisa dikembangkan bisa lebih besar lagi ,” jelasnya.

Berdasarkan informasinya, tahun 2017 untuk bantuan bioflok tahap II di Jawa Tengah hanya 10 paket. Yakni Jepara, Kendal, Solo, Jogyakarta, Brebes, Tegal dan Pekalongan serta Kudus. Sebagai upaya agar tahun 2018 lebih maksimal lagi, Dinas Pertanian dan Pangan Kudus juga sudah mengirimkan tiga program untuk calon penerima bantuan bioflok tahun anggaran 2018 KKP RI.

“ Untuk Tahun 2018 kita sudah mengirimkan tiga proposal yaitu Ponpes Yanabiul Quran desa Jekulo, Yayasan Raudlotul Mukminin Desa Hadipolo dan Kelompok Pendidikan P4S Al Mawaddah Desa Honggosoco ,” ungkapnya serius.

Fajar Nugroho dan Ami Putri saat meninjau lokasi kolam bioflok Ponpes Yanbu’ul Quran Desa Menawan Kecamatan Gebog setelah pembangunan rangka atap dilanjutkan pembuatan kolam bioflok.

Sementara itu, KH Saeroji, pengasuh PP Al Ahyar Darussalam, yang menerima dua paket bantuan tahun ini mengaku bersyukur sudah mendapatkan bantuan bioflok. Hal ini akan dijadikan sebagai modal utama agar bisa berkembang lebih besar lagi. Sehingga semakin mendukung pengembangan ekonomi pesantren.

“ Sesuai arahan dari Dinas Pertanian dan Pangan, hasil produksi lele ini memang untuk peningkatan gizi para santri dan pesantren serta wali murid lembaga pendidikan kami. Tetapi berdasarkan jumlah kolam dan isinya, pasti lebih dari setengahnya akan kita jual. Hasilnya untuk pengembangan lagi ,” kata Saeroji disela-sela melihat pembangunan kerangka atap kolam lele bioflok didampingi H. Nur Kholis ( Dewan Pembina Yayasan) dan Abdullah Zaim, Sekretaris Yayasan Al Ahyar, selasa (14/11).

Lebihlanjut Saeroji berharap mendapatkan pelatihan dari Dispertanpangan untuk bisa membuat benih sendiri. Sebab pada tahap awal bantuan kolam bioflok mendapatkan benihnya berasal dari Pare Kabupaten Kediri. Sehingga pihaknya terkendala jarak untuk pembelian selanjutnya paska panen.

“ Ke depan kita ingin mengembangkan dengan mendirikan Rumah Makan khusus lele halalan toyiban mubarokan. Sebab lele disini kan pakannya jelas terjamin baik. Tidak menggunakan bangkai ayam mati apalagi tikus mati ,” imbuhnya.

Abdullah Zaim menambahkan, luas lahan yang digunakan untuk kolam bioflok ini lebarnya 11 meter dan panjangnya 50 meter. Sedangkan luas bangunan lebar 9 meter dan lebar 40 meter dengan tinggi 2,2 meter.

“ Akhir november atau awal Desember nanti mulai tebar benih, diharapkan pada bulan februari 2018 sudah bisa panen. Nah, paska panen ini nanti kita butuh benih lagi. Dengan diajarkan pembuatan benih oleh dinas pertanian dan pangan, kita berharap bisa memproduksi benih sendiri ,” cetus Abdullah Zaim.

“ Kalau pas pelatihan di Sukabumi kemarin kita diperlihatkan pembuatan benih dengan benih ember. Kalau  pada manusia kan ada bayi tabung. Sepintas cara bikin benih lele itu sperma dan telur lele dicampur dalam ember kemudian ditetaskan. Semoga cita-cita kami bersinergi dengan dinas semakin lebih baik untuk mewujudkan masyarakat semakin sejahtera ,” tandasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pembudidaya Ikan Gurami di Kudus Mulai Tumbuh

Mejobo,- Upaya Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus untuk mengajak masyarakat melakukan budidaya ikan gurami, ...