Home » Perikanan » Dispertanpangan Terus Sosialisasikan Gerakan Pakan Ikan Mandiri
BAHAN BAKU. Isnuroso, Kasie Usaha Perikanan pada Bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Pangan menunjukkan jagung dan bekatul sebagai bagian bahan baku pembuatan pakan ikan mandiri.

Dispertanpangan Terus Sosialisasikan Gerakan Pakan Ikan Mandiri

Jekulo,- Gerpari adalah gerakan pakan Ikan Mandiri program pemerintah dengan tujuan untuk membantu pembudidaya ikan bisa bangkit dan bersaing dalam pengembangan usahanya. Fokusnya pada budidaya ikan air tawar seperti budidaya Nila, ikan Mas, lele, patin dan lain-lainya. Karena itu, melalui program Gerpari berupaya mengurangi ketergantungan terhadap baku pakan impor, dengan lebih memanfaatkan bahan baku lokal.

Di wilayah sekitar Kabupaten Kudus, terdapat banyak tumbuhan air terutama di kawasan rawa seperti kecamatan Undaan, Mejobo serta Jekulo yang ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan.

Catur Sulistiyanto S.Sos MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, melalui Isnuroso, Kasie Usaha Perikanan pada Bidang Perikanan mengungkapkan bahwa dalam budidaya perikanan biaya pakan merupakan biaya yang paling terbesar.

“ Pencanangan gerpari memang bertujuan untuk menekan biaya pakan dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Sehingga keuntungan yang diperoleh pembudidaya akan lebih tinggi. Sebab dalam dua tahun terakhir ini kan pembudidaya ikan air tawar mengeluhkan tingginya harga pakan ikan pabrikan ,” terang Isnuroso.

Kedepan, lanjut Isnu, kegiatan gerakan pakan ikan mandiri ini akan diarahkan berbasis pada kelompok pembudidaya ikan dan khususnya Pokdakan untuk budidaya air tawar. Melalui kelompok tersendiri maka pembinaan akan lebih fokus sehingga menghasilkan produk pakan yang berkualitas. Melalui gerpari juga biaya pakan diharapkan bisa ditekan hingga di bawah 60 persen dari sebelumnya 80 persen.

“ Semakin bisa menekan biaya pakan tanpa meninggalkan kualitas mutu tentu akan semakin baik. Sebab akan mempertahankan keberlanjutan usaha perikanan budidaya. Bahan lokal kita sebenarnya juga cukup banyak, hanya perlu fasilitasi peralatan dan edukasi ,” jelasnya.

Isnuroso bersama Astho Nugroho Utomo, mantri Perikanan, saat memantau penggunaan peralatan pembuatan pakan ikan mandiri.

Dituturkan, bahan baku lokal dapat berasal dari nabati maupun hewani. Bahan baku nabati antara lain : jagung, dedak halus, bungkil kacang tanah, minyak nabati (jagung), hijauan (azola, turi, lamtoro, talas, singkong, kacang dan enceng gondok. Sedangkan bahan baku hewani antara lain tepung ikan (berasal dari ikan rucah atau limbah industri pengolahan ikan), tepung darah (berasal dari limbah pemotongan hewan dengan kandungan protein kasar yang tinggi, namun miskin isoleusin, kalsium dan fosfor; pemakaian maksimum 5%), tepung keong mas, kadar protein sekitar 57,58% dengan kandungan asam amino tinggi dan merupakan laternatif terbaik pengganti tepung ikan, protein sel tunggal (algae) mempunyai kandungan protein 30-80% sehingga dapat dijadikan alternatif pengganti sumber protein tepung ikan.

Selain itu juga ada bahan lokal dengan kadar protein tinggi yaitu pemanfaatan belatung maggot. Hewan kecil ini kandungan proteinnya mencapai 45 persen, sehingga bisa digunakan sebagai pengganti tepung ikan impor. Maggot bisa diternakan terutama di daerah yang banyak memiliki limbah bungkil kelapa dan tempat pembuangan sampah sayuran.

“ Untuk maggot memang harus dipikirkan dampak bau apabila ingin menternakkannya. Apabila dekat dengan lokasi masyarakat tidak disarankan menggunakan maggot. Belatung ini kan munculnya dari sampah-sampah sayuran atau basah. Kalau bisa menternakkan tanpa menimbulkan bau, ini bisa menjadi pilihan protein yang bagus ,” urainya.

Menurut Isnu, faktor lain penyebab tingginya harga pakan di kota kretek adalah belum adanya industri pakan yang dekat pada sentra-sentra perikanan budidaya di Kudus. Sehingga pakan harus didatangkan dari daerah lain yang menyebabkan tingginya biaya transportasi.

“ Hal ini tentu berbeda dengan kawasan Kabupaten Blitar, Tulungagung, Kediri yang harga pakannya lebih terjangkau. Bahkan beberapa waktu lalu, harga ikan lele dari sana bisa lebih murah dibandingkan di kawasan Kudus dan sekitarnya. Ada tengkulak yang mengangkut dari sana dengan harga jual dibawah pasaran sini. Beda Rp 500 bagi konsumen membuat mereka meninggalkan lele hasil budidaya lokal sini ,” ungkapnya.

“ Semoga dengan kita terus mengajak pembudidaya ikan untuk membuat pakan mandiri, bisa menjaga keberlanjutan usaha mereka. Lebih baik kalau nanti bisa tumbuh pembudidaya-pembudidaya baru meski baru sekala rumahan ,” tandasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Pembudidaya Ikan Gurami di Kudus Mulai Tumbuh

Mejobo,- Upaya Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus untuk mengajak masyarakat melakukan budidaya ikan gurami, ...