Home » Ketahanan Pangan » Dispertanpangan Latih Ibu-ibu Olah Makanan Berbahan Lokal
BAHAN LOKAL. Catur Sulistiyanto, Kadispertanpangan, saat memberikan sambutan membuka acara pelatihan pengolahan pangan lokal di aula Bidang Ketahanan Pangan.

Dispertanpangan Latih Ibu-ibu Olah Makanan Berbahan Lokal

Mejobo,- Prihatin dengan semakin menurunnya pola hidup konsumsi makanan sehat, Dinas Pertanian dan Pangan (dispertanpangan) Kudus melalui Bidang Ketahanan Pangan menggelar pelatihan pengolahan pangan lokal di aula Bidang Ketahanan Pangan , Selasa (22/08). Acara ini dibuka langsung oleh Catur Sulistiyanto S.Sos MM, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan.

Dalam sambutanya, Catur Sulistiyanto, mengatakan bahwa program ini sebagai komitmen dan tanggungjawab dalam mengembangkan kualitas konsumsi pangan masyarakat melalui upaya pengembangan usaha pengolahan pangan berbasis pangan lokal.

“ Trend atau kecenderungan konsumsi pangan saat ini kembali ke alam atau back to nature. Dalam artian kita mulai melirik kembali ke bahan-bahan pangan alami yang mudah dan banyak kita dapatkan di sekitar kita ,” kata Catur Sulistiyanto.

IBU CERDAS. Ibu-ibu dari berbagai desa ini dibagi lima kelompok agar praktik makanan olahan jadi maksimal.

“ Dulu orangtua kita umurnya panjang dan sehat jarang terkena penyakit. Tetapi sekarang, masih muda banyak yang kena penyakit padahal itu sebenarnya sakit pada orang berumur tua. Misalnya diabetes dan stroke. Semuanya disebabkan konsumsi dan pola makan dengan bahan pangan tidak sehat. Bila melihat pengalaman pada para orangtua dahulu, bahan pangan lokal terbukti lebih sehat dan kandungan gizinya pun tidak kalah dengan bahan-bahan import ,” paparnya.

Bahkan, Kepala Dinas yang selalu terjun ke lapangan ini memeriksa kotak kue yang disuguhkan dihadapan peserta pelatihan. Apakah isinya berbahan lokal atau tidak.

“ Ini sudah bener, kuenya berbahan lokal dari ketela ,” cetusnya usia membuka kotak kue.

Lebihlanjut dipaparkan bahwa selama ini mayoritas masyarakat berkutat dengan bahan pangan yang semuanya berasal dari tepung terigu. Baik itu kue, cake, gorengan maupun mi instan yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Semuanya berasal dari terigu. Padahal diketahui bahwa terigu berasal dari gandum yang merupakan tanaman tidak dihasilkan dari bumi Indonesia sendiri.

BELAJAR FILLET. Hampir semua ibu-ibu peserta pelatihan tidak pernah melakukan fillet ikan di rumah.

“ gandum merupakan bahan pangan import, dan ini tidak kita sadari selama ini. Bertahun-tahun kita mengkonsumsi pangan tersebut ,” tuturnya.

Kalau kita mau menengok sumberdaya yang kita punya, sambungnya, sebenarnya kita punya bahan pangan yang murah dan mudah kita dapatkan. Kandungan seratnyapun tinggi. Singkong mudah kita dapatkan  dan kalau kita mampu mengolahnya ternyata singkong dapat dijadikan tepung sebagai pengganti tepung terigu. Tepung singkong fermentasi yang dikenal sebagai tepung mocaf dapat diolah menjadi berbagai macamolahan kue, roti bahkan dapat menjadi bahan pembuat mie dan kerupuk.

Ari Mulyani, Kasie Konsumsi dan Keanekaragaman Pangan Bidang Ketahanan Pangan, menambahkan bahwa pelatihan kali ini diajarkan bagaimana cara mengolah pangan-pangan lokal kekayaan alam yang berada di sekitar sendiri. Misalnya, ubi jalar, jagung, singkong, talas dan lainnya. Bahan ini dikreasikan dengan ikan sebagai sumber protein hewani. Sehingga menjadi kudapan yang memenuhi selera keluarga dan anak-anak.

“ Misalnya seperti bikin bakso, nugget, sosis dan risolis serta brownies. Mumpung ada narasumber yang ahli dan punya pengetahuan lebih seputar tepung mokaf dan olahan lanjutanya. Ibu-ibu yang beruntung bisa ikut pelatihan kita harapkan menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Bahkan kita harapkan malah bisa menjadi usahan pengolahan pangan lokal. Sehingga bisa menambah pendapatan keluarga dan kelompok ibu-ibu setempat ,” terang Ari Mulyani.

SEMANGAT. Ketua PKK Desa Bulungkulon antusias praktik membuat bakso berbahan ikan dan sayuran.

Padahal pelatihan ini didatangkan dua orang narasumber yakni Tri Rettagung Diana dari Akademi Kesejahteran Sosial (AKS) Ibu Kartini Semarang dan Kristin Angriani, pemilik usaha brownies ndeso dari Salatiga.

Setelah mendapat teori, sebanyak 30 ibu-ibu PKK dari berbagai desa itu melakukan praktik masing-masing. Saking semangatnya praktik, Hanik, seorang peserta dari desa Gondangmanis sampai duduk dilantai saat membuat adonan risolis.

“ Kebiasan di rumah gini. Ya memang enak begini, yang penting kan jadi ,” ucapnya sambil tertawa bersama kelompoknya.

Sumiyatun, istri Kepala Desa Bulung Kulon, juga nampak serius menyimak teori kemudian praktik membuat bakso dari ikan bandeng kombinasi sayuran. Beberapa kali dia kesulitan melakukan fillet ikan bandeng.

“ Iya memang baru pertama kali ini fillet ikan. Kalau biasanya di rumah kan, ada ikan dibersihkan kotorannya, terus digoreng. Selesai hehehe ,” cetusnya sambil mengusap keringat.

Sedangkan Muntamah, istri dari Kepala Desa Bulung Cangkring, sedikit kebingungan saat membuat kulit pembungkus risolis jagung .

“ Bu, ini tepung mokafnya dijeri ( diberi air) saja atau tepung diaduk dengan telur?. Belum pernah membikin soalnya ,” ucap Muntamah.

BARU. Peserta dari Bulungcangkring ini belajar membuat risoles berbahan jagung yang banyak terdapat di desanya.

Baik Muntamah maupun Sumiyatun menegaskan, bahwa keduanya bertanggungjawab untuk belajar serius karena menjabat sebagai ketua PKK di masing-masing desa. Sehingga setelah selesai pelatihan bisa ditularkan pada para kaum ibu di desanya.

“ Nanti semua yang diajarkan disini, akan kita tularkan ke ibu-ibu di desa kami. Sebab bahan-bahannya ada kok semuanya. Mulai dari jagung, tepung ketela, ikan dan cabai serta sayuran. Selama ini ya tidak diolah seperti yang diajarkan sekarang. Kita merasa, acara seperti ini sangat bermanfaat. Dan kalau bisa misalnya sebulan sekali dilakukan dengan berganti-ganti menu atau jenis makanan olahannya ,” harap Sumiyatun yang diamini Muntamah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Warga Wonosoco Dilatih Membuat Pupuk Bokashi

Mejobo,- Memasuki musim panen padi, biasanya diikuti dengan menumpuknya jerami di area persawahan Desa Wonosoco ...