Home » UPT Penyuluhan » Dispertanpangan Evaluasi, Verifikasi dan Validasi Pupuk Bersubsidi
UNTUK PETANI. Catur Sulistiyanto memimpin rapat evaluasi, Verifikasi dan Validasi pupuk bersubsidi di aula kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kudus..

Dispertanpangan Evaluasi, Verifikasi dan Validasi Pupuk Bersubsidi

Mejobo,- Pupuk merupakan kebutuhan dasar petani dalam berbudidaya tanaman. Tanpa pupuk, pruduksi pertanian akan sulit untuk dinaikkan. Begitu pentingnya pupuk untuk kenaikan produksi pertanian maka untuk menghindari gejolak kenaikan harga dan kelangkaan pupuk saat dibutuhkan petani, pemerintah mengatur dalam pendistribusian pupuk ini, melalui subsidi harga sampai dengan pengawasan distribusinya.

Pada hari Senin (02/09), Dinas Pertanian dan Pangan ( Dispertanpangan) Kabupaten Kudus mengadakan rapat evaluasi pendistribusian dan pembagian jatah pupuk bersubsidi yang ditetapkan melalui RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) pada tahun lalu dan tahun 2017 sampai bulan september. Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, Catur Sulistiyanto S.Sos MM, dihadiri perwakilan dua produsen pupuk yakni Petrokimia dan Pusri, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah serta distributor beserta penyalurnya pada wilayah Kabupaten Kudus.

Catur Sulistiyanto, Kadispertanpangan, dalam sambutannya mengatakan bahwa rapat koordinasi ini untuk mengetahui apakah pupuk bersubsidi di wilayah Kudus sudah merata atau belum.

“ Ini penting bagi kita, karena untuk meningkatkan produktifitas petani. Pupuk di Kudus ini unik, terutama di wilayah kecamatan undaan sebagai wilayah penyangga padi. Sering ada laporan adanya kekurangan pupuk bersubsidi. Karena itu sekarang kita duduk bersama ada perwakilan produsen, distributor sampai penyalur serta para PPL ,” kata Catur Sulistiyanto.

Pihak produsen pupuk urea ( Pusri) yang diwakili Adi, menjelaskan bahwa penyaluran dari pupuk dari perusahaannya tidak mengalami masalah. Alokasi tahun 2017 yaitu 9.315 ton dan sudah terealisasi 6.182 ton sampai akhir bulan September.

“Secara persentase 66 persen dan masih ada waktu tiga bulan mendatang. Stok masih ada 3.133 ton ,” ujar Adi.

Sedangkan perwakilan Petrokimia, Sukowati, mengungkapkan bahwa sudah menyalurkan empat jenis pupuk bersubsidi yaitu ZA, SP36, Phonska dan Petroganik. Perinciannya, pupuk ZA alokasi tahun 2017 4.160 ton realisasi sampai September 2.960,2 atau terealisasi 144,5 persen. Pupuk SP36 alokasi 2017 1.275 ton realisasi sampai September 897,5 ton atau terealisasi 106,6 persen. Pupuk Phonska alokasi tahun 2017 angkanya 5.920 ton realisasi sampe September 4.450,05 ton atau terealisasi 138,4 persen. Sedangkan Pupuk Petroganik alokasi tahun ini 4.100 ton realisasi 1.079,25 ton atau terealisasi 69,5 persen.

Para poktan, penyalur pupuk bersubsidi dan distributor wilayah kudus mengikuti rapat evaluasi pupuk bersubsidi.

“ Kita juga sebenarnya punya Phonska yang tidak bersubsidi yaitu Phonska + ZN. Namun ini belum terserap petani dengan alasan harganya mahal dibandingkan waktu perkenalan dulu. Kita bulan ini masuk ke wilayah Kecamatan Undaan karena pengairan irigasi teknisnya guna MT I sudah mulai turun sejak tanggal 15 September lalu dari Waduk kedungombo.  Wilayahnya Desa Kutuk, Glagahwaru, Kalirejo, Berugenjang, Lambangan dan Medini. Untuk delapan kecamatan lainnya masih kering ,” terangnya.

Suko menyayangkan petani yang masih belum memanfaatkan pupuk organik yaitu petroganik. Alasannya, upah kuli untuk menaburkan pupuk lebih mahal dibandingkan harga pupuknya. Selain itu juga medan areal sawah di kecamatan Undaan rata-rata tanah liat. Sehingga kaki masuk ke dalam tanah sampai lutut.

“ Alasanya lainnya, petani penggarap tidak semuanya adalah pemilik tanah sawah tersebut. Banyak petani gurem sebagai penyewa sehingga rata-rata mereka berfikirnya praktis dan ekonomis. Pemikirannya saat yang penting saat itu untung dan cepat panen panen meski pakai pupuk kimia. Tidak berfikir bahwa pupuk organik itu membuat tanah semakin tandus karena semakin miskin unsur haranya. Seharusnya kita mulai menyadarkan untuk menggunakan pupuk organik ,” paparnya.

Namun penjelasan terkait dengan pupuk organik ini dibantah baik koordinator PPL kecamatan Undaan maupun PPL desa.

“ Petani-petani binaan kami tidak mau memakai petroganik karena memang kualitasnya tidak memberikan manfaat. Bahkan saat kami mengikuti pelatihan di semarang beberapa waktu lalu, ada profesor yang mengungkapkan bahwa pembuatan petroganik menggunakan suhu yang sangat tinggi. Sehingga malah membunuh bakteri-bakteri yang seharusnya berperan menyuburkan pupuk melalui pupuk organik ,” cetus Hasan, PPL Desa Karangrowo Kecamatan Undaan.

“ Bahkan, beberapa kali petani kami menemukan ada skrup dan sampah-sampah waktu menaburkan pupuk dari kemasan petroganik. Ada juga yang sudah satu tahun butiran petroganik tidak menyatu dengan tanah alias masih bentuk bulat. Kami ingin kualitas dari petroganik menggunakan kualitas standar nasional dan memang bisa digunakan untuk pupuk di sawah ,” imbuhnya.

Menanggapi hal ini, Suko mengatakan akan melaporkan ke perusahaannya selalu pemilik merk Petroganik. Alasannya, pembuatan petroganik diserahkan ke masing-masing kota kabupaten setempat.

“ Saat ini ada ratusan investor yang membuat pupuk petroganik. Nanti kami sampaikan ke perusahaan supaya investor yang curang diberikan teguran dan pembinaan ,” jelas Suko. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kadispertanpangan Kawal Pembukaan Pintu Air ke Wilayah Undaan

Klambu,- Guna memastikan air dari waduk Kedungombo mengalir ke Kecamatan Undaan Kudus sesuai jadwal yakni ...