Home » Ketahanan Pangan » Dampingi Perajin Kerupuk agar Kualitas Produk Lebih Baik
MOTIVASI. Murdiyono, Kasie Keamanan Pangan bersama Ari Mulyani, Kasie Konsumsi dan Keanekaragaman Pangan saat melihat mesin produksi kerupuk.

Dampingi Perajin Kerupuk agar Kualitas Produk Lebih Baik

Dawe ,- Warga Kabupaten Kudus mayoritas banyak yang kreatif dalam berwirausaha khususnya produksi makanan camilan dalam skala UKM (Usaha kecil menengah). Namun karena kapasitasnya masih tradisional, maka pihak Dinas Pertanian dan Pangan Kudus melalui Bidang Ketahanan Pangan melakukan pendampingan. Tujuannya, agar produk dari UKM tersebut menjadi lebih higienis sesuai dengan aturan dari Dinas Kesehatan dan peraturan makanan olahan.

Murdiyono, Kasie Keamanan Pangan Bidang Ketahanan Pangan, mengungkapkan bahwa semangat dan kemandirian dari kelompok produksi Kerupuk yang tergabung dalam kelompok Siwalan Desa Piji Kecamatan Dawe patut mendapatkan apresiasi. Namun masih ada beberapa hal yang perlu dilakukan sehingga produk menjadi lebih baik.

Penjemuran di bawah rawan diinjak unggas seperti ayam dan bebek, diarahkan agar membuat para-para sehingga posisi di atas tanah.

“ Kita melihat, kerupuk-kerupuk yang selesai dicetak kan dijemurnya di lantai bawah. Kalau ada pagar di sekeliling tidak apa-apa. Tapi di halaman rumah itu kondisinya terbuka. Sehingga rawan menjadi tempat berkeliaran ayam atau bebek ,” kata Murdiyono, Senin (18/09).

Kaki ayam, lanjut Murdiyono, kalau sampai menginjak kerupuk-kerupuk itu selain menjadi kotor juga menjadi tidak higienis. Hal ini menjadian perhatian tersendiri bagi Dinas Pertanian dan Pangan. Oleh karena itu, sebagai instansi yang membimbing UKM dari segi keamanan pangan merekomendasikan untuk membuat para-para sebagai tempat untuk menjemur kerupuk tersebut. Para-para ini bisa terbuat dari potongan-potongan bambu sehingga harganya lebih murah.

“ Kelompok Siwalan ini sudah bagus, kita mendampingi agar produknya lebih higienis sehingga mendapatkan PIRT (surat keterangan makanan olahan) dari Dinas kesehatan. Maka kualitasnya makin meningkat. Efeknya apabila ditambah kemasan yang baik maka harga juga bisa bertambah ,” tuturnya.

Kedatangan Bidang Ketahanan Pangan ini mendapatkan sambutan antusias dari Turaichan, ketua kelompok Siwalan. Sebab bisa meminta informasi tentang bahan-bahan yang diperbolehkan dan dilarang oleh pemerintah.

“ Kami ini orang awam dan orang desa. Membuat produk juga turun temurun dari sebelumnya. Karena itu kami sangat senang dengan kedatangan dinas kesini. Kami bisa lebih tahu bahan apa saja yang sekarang tidak diperbolehkan dan dilarang pemerintah. Kami ingin bekerja dengan baik dan rejeki juga berkah untuk keluarga. Jangan sampai produk kami, karena ketidaktahuan pengetahuan kami malah mencelakakan orang lain ,” ucap Turaichan didampingi istrinya.

Turaichan mengungkapkan bahwa setiap hari dirinya menghabiskan bahan baku tepung tapioka yang dibelinya dari pati sebanyak 1,5 kuintal. Kerupuk dijual kondisi mentah setelah dijemur dengan pemasaran sampai Demak, Semarang dan Jepara melalui pengepul.

Perajin Kerupuk diberikan saran agar membuat kreasi kerupuk dari tepung mocaf dan kemasan lebih baik untuk pemasaran kelas menengah.

“ Kalau musim hujan kami menggunakan oven. Sedangkan untuk penjemuran, kami siap melaksanakan saran dari Dinas Pertanian dan Pangan. Sebab kalau hanya dari bambu-bambu, disini cukup banyak ,” tukasnya.

Mendengar penjelasan ini, Murdiyono, mengatakan bahwa apabila ingin menaikkan harga produk maka harus merubah kemasan. Sebab selama ini hanya dibungkus kemasan plastik bening yang diberikan sablon.

“ Kalau untuk level UKM dengan sasaran harga lebih baik kan merubah kemasan dulu. Sebab, kemasan plastik itu identik dengan harga murahan. Semoga nanti kelompok produksi kerupuk ini bisa semakin maju. Sebab sekarang sudah memiliki mesin cetak kerupuk modern dengan modal sendiri. Ini patut kita apresiasi ya. Jadi kita tinggal mengarahkan untuk segera memiliki PIRT Dinas kesehatan dan merubah kemasan ,” tandasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Warga Wonosoco Dilatih Membuat Pupuk Bokashi

Mejobo,- Memasuki musim panen padi, biasanya diikuti dengan menumpuknya jerami di area persawahan Desa Wonosoco ...