Home » Ketahanan Pangan » Ajari Ibu Rumah Tangga Membuat Nata De Nanas dan Saus Cabai Sendiri
LATIH IBU RT. Murdiyono saat menerangkan tujuan dari pelatihan olahan pangan hasil pertanian untuk produksi Saus cabai dan Nata De Nanas.

Ajari Ibu Rumah Tangga Membuat Nata De Nanas dan Saus Cabai Sendiri

Mejobo,- Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus tidak hanya membimbing petani untuk bercocok tanam dengan teknologi terbaru, namun juga mengajarkan para ibu rumah tangga untuk mengolah hasil pertanian paska panen. Melalui Bidang Ketahanan Pangan, 20 ibu rumah tangga dilatih membuat Saus Cabai dan Nata De Nanas selama dua hari yaitu tanggal 24-25 Juli melalui program pembinaan dan pelatihan olahan pangan hasil pertanian.

Murdiyono, Kasie Keamanan Pangan Bidang Ketahanan Pangan, mengatakan bahwa salahsatu produk olahan hasil pertanian dari cabai yang akhir-akhir ini semakin memasyarakat adalah saus cabai. Hal ini disebabkan semakin berkembangnya jenis makanan yang membutuhkan saus cabai sebagai penyedap rasa. Seperti mie ayam, bakso, mie bakso, ayam goreng ( fried chicken) dan jenis makanan lainya.

Peserta yang berasal dari ibu rumahtangga ini praktik langsung cara membuat saus cabai yang higienis untuk konsumsi keluarga.

“ Ini tidak hanya di lingkungan perkotaan, tetapi sudah ke pelosok pedesaan ,” kata Murdiyono.

Saus cabai merupakan saus yang diperoleh dari pengolahan cabai yang sudah matang dan berkualitas baik dengan tambahan bahan-bahan lainnya sebagai bahan pembantu. Yaitu garam, gula, bawang putih dan bahan pengental seperti pati jagung atau maizena).

Pelatihan membuat saos cabai ini agar para ibu rumah tangga bisa membuat saos cabai sendiri di rumah sehingga kebersihan dan keamanan pangannya lebih terjaga. Sebab saat ini banyak ditemukan oknum pelaku industri pembuat saos cabai yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan sehingga dapat membahayakan konsumen.

Fafa sedangkan mempraktikkan cara memasak nata de nanas pada peserta pelatihan.

“ Banyak kita saksikan di televisi dan berita-berita tentang pelaku oknum-oknum itu. Nah, kalau para ibu rumahtangga bisa membuat sendiri tentu akan lebih higienis ,” tukasnya.

Sedangkan terkait dengan olahan Nata de Nanas, Murdiyono mengungkapkan bahwa makanan ini semakin banyak diminati karena rasanya enak dan kaya serat. Selain itu pembuatan nata de nanas juga tidak terlalu sulit dan biaya yang dibutuhkan tidak banyak.

“ Bisa untuk bekal anak sekolah. Kalau memang ada waktu lebih juga bisa sebagai alternatif usaha yang dapat memberikan keuntungan,” tuturnya.

Peserta sedang menyaring nanas dan ampasnya digunakan untuk membentuk nata.

Produk ini, masih kata Murdiyono, produk ini banyak digunakan sebagai pencampur es krim, cocktail buah, sirup dan makanan ringan lainnya. Selain itu, bagi ibu-ibu yang ingin diet makanan ini dapat dipakai sebagai sumber makanan rendah energi dan berserat sehingga memperlancar proses pencernaan dalam tubuh.

“ Proses pembuatan nata dari nanas ini sangat mudah, tidak serumit seperti yang dilihat di internet-internet. Cukup ampas dari nanas setelah diperas, lalu diberikan air dan gula lalu disimpan dalam botol. Didiamkan selama seminggu akan menjadi nata. Selama ini kan dikenalnya hanya nata de coco. Nah ini kita kenalkan inovasi hasil pertanian yang terdapat di lokal Kudus. Pokoknya semua buah yang mengandung gula, mudah dibuat untuk nata. Bahkan untuk ibu-ibu yang biasa mencuci beras sendiri sebelum dimasak, air lerinya bisa dibuat sebagai nata ,” urainya.

Dalam program pembinaan dan pelatihan olahan pangan hasil pertanian ini, Bidang Ketahanan Pangan mendatangkan Fafa Nurdyansyah, dosen dari Program Studi teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Informatika Universitas PGRI Semarang.

Para ibu-ibu peserta pelatihan sangat antusias mengikuti dan serius menyimak materi yang diterangkan oleh narasumbernya.

“ Pak penggunaan benzoat sebagai pengawet untuk nata atau saos cabai satu kilo ukuranya bagaimana ? ,” ucap Solikhatun, warga asal desa Hadipolo.

“Kalau untuk konsumsi rumahtangga sebaiknya disarankan untuk tidak menggunakan benzoat. Cukup dimasukkan dalam kulkas bisa tahan satu minggu. Kecuali kalau mau dipakai sebagai usaha alternatif memang harus menggunakan benzoat supaya tahan lama. Perbandingannya, untuk satu kilo bahan benzoatnya satu gram. Cara praktisnya, satu sendok makan itu 15 gram, jadi seujungnya sendok makan ,” jelas Fafa.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Warga Wonosoco Dilatih Membuat Pupuk Bokashi

Mejobo,- Memasuki musim panen padi, biasanya diikuti dengan menumpuknya jerami di area persawahan Desa Wonosoco ...